 | Navigation |  | | | Navigate through our site | | |  | Sponsored Links |  | | | Some words from our sponsors | |  | Our Networks |  | | | Our sister websites | |  | Welcome, Unregistered. |  | | | Member Panel | | | | | Curhat Curahkan isi hati kamu di sini. Boleh curhat pribadi, seputar kantor, sekeliling kampus, situasi di sekolah, atau teman, dan lain-lain... |  |  13 February 2008, 04:21 PM |  | Junior Member | | Join Date: February 2008 Posts: 17 Rep Power: 0 | | Pasir Pasir keihklasan Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi sebuah padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk. Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai. Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengen\mbara itu duduk tercenung, meneysali kehilangan itu. “ Ah, tamatlah riwayat kita”, kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “ kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman di tempat ini.” Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat”, seru salah seorang diantara mereka. “Lihat, ada air di sana”. Dengan sisa tenaga yang ada mereka berlari menuju oase itu. Untung bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air. Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.” Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau menulis di pasir ?” Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus”, jawabnya dengan bahasa yang cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlahkemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.” Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angina yang bertiup mengiringi. Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mangguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan kesedihan di pasir agar angina keikhlasan membawanya pergi ? adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ? |  14 February 2008, 02:55 PM |  | Senior Member | | Join Date: April 2007 Location: jakarta Posts: 6,745 Rep Power: 8 | | Quote: Originally Posted by Popeye Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi sebuah padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk. Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai. Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengen\mbara itu duduk tercenung, meneysali kehilangan itu. “ Ah, tamatlah riwayat kita”, kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “ kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman di tempat ini.” Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat”, seru salah seorang diantara mereka. “Lihat, ada air di sana”. Dengan sisa tenaga yang ada mereka berlari menuju oase itu. Untung bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air. Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.” Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau menulis di pasir ?” Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus”, jawabnya dengan bahasa yang cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlahkemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.” Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angina yang bertiup mengiringi. Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mangguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan kesedihan di pasir agar angina keikhlasan membawanya pergi ? adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ? | Thanks gw baca hari ini.....saat gw BT ..... please copas postingan ini di thread motivasi, biar ngumpul di sana dan dibaca banyak teman......  ........... God bless you __________________ BE YOURSELF DON'T WORRY....... BE HAPPY!!!!! |  14 February 2008, 04:26 PM |  | Junior Member | | Join Date: February 2008 Posts: 17 Rep Power: 0 | | Thnx yah... dah nyempetin baca...btw..someday aku kirim yg laen...semoga bermanfaat motto : dimulai dari yang baik diakhiri yang baik pula  |  28 February 2008, 11:12 AM |  | Senior Member | | Join Date: December 2005 Location: Jakarta Posts: 355 Rep Power: 3 | | Analogi dan cerita yg bijak ...... so keepin' That way bro or sisTa.... Kesulitan itu hilang bersama pasir , bermakna tdk ada dendam yg tinggal dalam diri tapi tetap sebagai suatu pelajaran yg berguna dihati , dan Untuk kebahagian biarkan tetap terpatri dalam saksi dunia , karena hal ini patut menjadi indikasi keberhasilan yg akan dilanjutkan kemudian oleh pemegang tongkat estafet lanjutan ... Yupz.... it's nice  | | Thread Tools | | | | Display Modes | Linear Mode | Posting Rules | You may not post new threads You may not post replies You may not post attachments You may not edit your posts HTML code is Off | | | All times are GMT +8. The time now is 12:40 PM. Powered by vBulletin®, Copyright ©2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd. |  |