Kartini yang terdampar (sigi) Lebih dari sebulan yang lalu, SCTV , dalam program sigi 30 menit, membahas, tentang kehidupan TKW di singapore. Sangat memprihatinkan. Seorang wanita baik-baik, pergi ke negeri orang dengan niat memperbaiki ekonomi keluarga di kampung halaman, dan berakhir dengan kenyataan yang pahit. Saya sendiri seorang TKW, yang sudah meninggalkan keluarga selama 6 tahun. Hidup sebagai PRT adalah hal -terakhir yang saya inginkan (gak ada satu orangpun yang menginginkannya). Saya adalah salah satu dari mereka yang beruntung, bertemu dengan majikan yang baik dan supportive. Saya di beri kesempatan untuk belajar banyak hal hanya bisa di pelajari di sekolah, kalau di Indonesia. Meskipun begitu, saya tidak melupakan teman-teman yang kurang beruntung, mereka harus benar-benar bekerja keras dengan waktu istirahat yang kurang, majikan yang cerewet, dan bahkan tidak ada sedikitpun kesempatan untuk bicara dengan teman yang lain. Satu hal yang menarik perhatian saya sewaktu menonton tayangan sigi melalui internet , "kami sebagai TKW memberikan sumbangan pada devisa negara dengan jumlah yang tidak sedikit, milyaran rupiah". Lantas, apa yang kami dapatkan dari negeri kita? Perlindungan? yah itu betul. Dan semua WNI di luar negeri pasti mendapatkan hal yang sama. Apa laagi? Sewaktu kami harus pulang ke kampung halaman, kami melewati proses yang sangat sulit, bertele-tele, neko-neko. Terutama di bandara international. Setelah turun dari pesawat, kami di pindahkan ke terminal 3 , melalui proses yang panjang, kami di "paksa" untuk menyewa taxi (travel). Ironisnya, keluarga tidak di perbolehkan untuk menjemput. Mau atau tidak, kami harus membayar orang-orang yang "membantu" menarik koper, meskipun kami tidak membutuhkan bantuannya.Mereka menginginkan uang, kami di sisi lain, tidak begitu membutuhkan bantuan mereka, karena koper memang ringan. Salah satu teman saya membutuhkan waktu sehari penuh cuma untuk keluar dari T3. Setelah bertahun-tahun berpisah dari keluarga, yang kami inginkan hanyalah PULANG KERUMAH TANPA KENDALA. Berkumpul bersama keluarga. Stelah beberapa tahun bekerja di Singapore, dan mendapatkan pelayanan yang cukup baik (meskipun hanya PRT, saya selalu merasa di hargai kemanapun saya pergi), pulang ke negeri sendiri dan mendapatkan pelayanan yang "ogah-ogahan" membuat saya frustasi dan kehilangan keinginan untuk pulang. Apakah memang sudah menjadi tradisi orong Indonesia untuk (hanya) menghargai orang yang berduit? |