Asmara Gundah Gulana ~ Kehidupan Dalam Khayalan ~ Waktu demi waktu terus berjalan, sekian jauh aku melangkahkan kaki, belum kutemukan juga arti hidup. Suatu senja dimusim hujan, sore itu agak mendung sepenat kepalaku, napas terasa pengap, aku memutuskan untuk keluar rumah, yah sekedar melepas kepenatan hidup, atau sekedar cari anginlah. Sudah seminggu aku tak melihat seseorang, yang entah kenapa tiba-tiba aku merindukannya padahal belum lama aku mengenalnya, aku melangkah sambil ngelamun dan tiba-tiba aku tersentak dari lamunanku karena ada yang menyapaku setelah kuteliti, pantas aku ada didepan rumahnya, ternyata dia yang menyapaku dan aku pun berhenti sebentar sambil kupandangi dia yang sore itu begitu ceria banget. "Hai......yan mau kemana? tumben sore-sore mau ngelayap?" tanyanya "Ah....nggak kemana-mana kok cuma kepalaku agak pusing dan berat jadi ya cuma cari angin-angin". jawabku. "Tapi kamu kok ngelamun sih ? Ada apa yan ?". tanyanya lagi "Nggak kok, aku nggak ngelamun cuma nghayal doang ?" sambil tertawa aku menjawab. "Ya sama saja, apa bedanya." kilahnya, "Oh-ya." jawabku. "Yan aku ikut dong jalan-jalan." dia bicara sambil mendekatiku. "Ya boleh-boleh saja tapi aku nggak bisa nraktir kamu nih, kamu tahu sendiri dong, nasib anak kost!" kataku sambil tersenyum. "Ah kamu bisa aja, aku ikut bukan berarti pingin ditraktir sama kamu, tapi aku ingin jalan-jalan saja, kebetulan kamu lewat jadi aku ikut kamu saja, bolehkan?" tanyanya lagi "Siapa yang ngelarang, tapi awas nanti kalau ada yang cemburu?" kataku "Siapa yang cemburu Yan?" tanyanya meledak sambil mencubitku. "Yah tentu pacarmu dong Ri!!" jawabku tegas. "Pacar? Apa kamu nggak tahu?" "Memang belum tahu." jawabku spontan "Aku ini belum punya pacar jadi bebas main sama siapa saja." jawabnya "Kalau begitu sudahlah, kalau memang kamu mau nemani aku, ayo jalan" Kami pun berjalan bersama, tapi sebenarnya aku tak punya tujuan mau kemana, aku jadi binggung dan aku bertanya padanya. "Ri kamu mau jalan-jalan kemana?" "Ya terserah kamu, aku cuma ngikut." jawabnya "Jangan gitu dong, aku kan nggak punya tujuan soalnya aku lagi bingung nih" "Duh rugi dong masih muda sudah bingung." katanya sambil menatapku Mikirin pacar ya yan?" dia bertanya lagi "Pacar dari mana, aku ini kan belum pernah punya pacar. mikirin diri sendiri saja aku belum bisa, boro-boro mikirin orang lain, kamu cape ya" potongku untuk mengalihkan perhatiannya. "Cape sih nggak, tapi aku senang kok jalan-jalan sama kamu." katanya sambil tersenyum. "Tapi aku sudah cape nih, lebih baik kita ngobrol disana." ajakku sambil menunjuk sebuah pilar jembatan di pinggir jalan itu. Aku duduk disana dia pun ikut duduk disampingku. "Aku berkata tapi bukan ditunjukannya padanya. Sayang cuacanya kurang bagus, coba kalau cerah dunia ini terasa indah apalagi ditemani seorang bidadari! bahagia sekali hatiku." "Hus jangan nghayal terus." dia memotong sambil mencubit, "Sorry aku cuma membayangin saja." ku jawab sambil tersenyum. "Eh ...ngomong-ngomong kamu asli orang sini ya Ri?" tanyaku "Bukan sih aku sama saja seperti kamu, tapi aku tinggal dirumah saudara, kebetulan saudara saya ngerti dan nggak suka marah." "Kalau begitu kamu senang tinggal dengan mereka". kataku "Ya senang juga sih, tapi........ "Tapi apa Ri, kamu sudah beruntung, punya saudara sebaik dia, kurang apa lagi dengannya?" tanyaku sambil menatapnya. "Ah nggak ada sih yan, cuma tinggal sama saudara itu ada juga nggak enaknya," katanya "Yah namanya juga orang hidup, masalah pasti timbul setiap saat, kamu tahu jangankan kamu yang tinggal sama saudara, aku ini juga sering punya masalah yang tak bisa kuselesaikan cepat-cepat, tiada orang yang dapat ku minta tolong, aku ini seorang diri, sebagai perantau, jadi kamu jangan terlalu memikirkannya terus-terusan, kamu kan sama saudara bicaralah dengannya, mungkin dia bisa membantumu memikirkannya, jangan di telan sendiri, nanti bisa-bisa malah kamu bisa sakit, bahaya itu," kataku panjang lebar. "benar juga saranmu, kalau gitu aku nggak rugi punya teman sepertimu". >"jangan begitu, aku hanya membayangkan saja. dari apa yang telah kualami, jadi kamu jangan terburu-buru menanggapku seperti itu, sebab aku merasa aku bukan orang baik, tapi aku juga tak ingin jadi orang jahat." Aku diam sejenak sambil menunggu reaksinya, dan kulanjutkan lagi. "Nanti kalau kamu tahu suatu hari ada yang kurang baik yang aku timbulkan, kamu setidak-tidaknya akan punya praduga bahwa aku ini telah berubah dan mungkin kamu tidak akan senang lagi berteman denganku, juga kamu merasa kecewa padaku, itu memang pernah kualami sebelumnya, tapi kamu jangan tersinggung itu cuma pengalaman aku saja, mungkin kamu lain, dan aku tidak menyamakan kamu dengan seseorang yang telah lama melupakan aku, tapi aku tidak peduli padanya, kalau itu memang maunya ya terserah." "Aku hanya menyesal sebelumnya tak mengatakan apa-apa. dulu kuanggap sebagai soal kecil saja, tapi setelah lama semua berubah, menjadi masalah yang komplek, tapi sekarang aku berusaha melupakan apa yang sudah terjadi, karena aku sudah pasrah, yang terjadi terjadilan terserah yang mengatur, aku cuma bisa berharap, berusaha dan berdo'a saja." kami terdiam Aku menatapnya sambil kuteruskan ucapanku," jadi ya sebenarnya aku ingin berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain yang baik kepadaku." Akhirnya dia bicara juga. "Dari ceritamu aku mengerti, tapi kamu tak perlu takut, aku pun punya perasaan,apalagi aku seorang wanita perasaannya lebih halus dari laki-laki" katanya "Ya aku juga tahu, itu memang kelebihanmu, jiwaku terlalu keras dalam kehidupan sehingga aku terlalu egois dengan perasaan orang lain, lebih banyak tak peduli dengan keinginan orang lain, tapi aku bukan tak mau sebenarnya bisa saja, tapi aku tak mampu untuk melakukannya, terlalu banyak yang harus kuhadapi." "Eh maaf ya sampai ngelantur sejauh ini... Sorry ya Ri....". potongku "Ah nggak apa-apa kok." jawabnya "Hari sudah agak gelap sebaiknya kamu pulang, nanti keburu hujan, soal ini kita lupakan dulu, ya kapan-kapan kita bicarakan lagi." "Lalu kamu nggak pulang ... yan ??." tanyanya "Ya jelas aku akan pulang, tapi sebaiknya kamu duluan ya. mau kan" "Nggak mau ah, tadi kan kita pergi sama-sama, ya pulangnya juga harus bareng dong?" sanggahnya "Baik kalau itu memang maumu." jawabku "Ayo kita pulang". Di jalan menuju pulang tidak ada lagi yang dibicarakan aku dan dia sama-sama membisu, masing-masing mengurusi pikirannya sendiri, tak lama kami berjalan, tak terasa sudah sampai didepan rumahnya. Sebelum dia masuk rumahnya dia sempat berucap. "Yan.. makasih ya mau ngajak aku jalan-jalan dan ngobrol." katanya "Sebenarnya aku yang harus berterimakasih, sebab kamu sudah nemani aku ngobrol." jawabku "Oh iya yan besok kita ketemul lagi ya, mau kan?" dia bertanya sambil tersenyum. "Ya kalau aku ada waktu boleh-boleh saja, tapi kamu jangan memaksakan diri untuk itu, sebaiknya seperti biasa saja apa yang kau lakukan, dan tentang aku tak perlu kau pikirkan, lupakan saja dulu, nanti kamu ikut ngelamun seperti saya, kan kamu bilang rugi kalau aku ngelamun," kataku sambil tersenyum. "baiklah ... sampai besok yan ....!!! dagh .....!!!!" "Silahkan." jawabku Dia pun masuk kerumahnya sambil melambaikan tangannya, sementara aku melanjutkan langkah yang tersisa. Sampai ditempat kost malam mulai tiba, dan agak gelap karena hujan mungkin akan segera turun, dilangit mendung. Setelah makan aku masuk kamarku dan merenung, sementara diluar hujan mulai turun dan lama kelamaan semakin deras, suasana begitu sunyi mencekam hanya sekali-sekali terdengar bunyi petir menyambar, dan cahaya kilat yang membuat bulu kuduk berdiri, ngeri sekali. Aku berpikir tentang kejadian tadi sore, sungguh aku tak mengerti semuanya, haruskah semuanya terjadi begitu saja, aku tak habis pikir, mengapa masih ada seorang gadis yang mau memperdulikan aku, sementara aku sendiri tak peduli dengan semua itu, walaupun aku sering berkhayal, tapi aku tak begitu dalam untuk mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Kini kusadari dan aku berpikir apakah semunya akan terus berlanjut atau hanya hari itu saja. ah tak tahulah aku. biarlah semuanya yang akan terjadi terjadilah. aku hanya bisa berdo'a dan memohon kepada yang kuasa semoga dia mau mengerti siapa aku dan dia tidak berharap banyak tentang aku, semoga dia mau mengerti nasibku yang tak mungkin dapat membuatnya senang. Lama sudah aku berpikir tak terasa, ketika kulihat jam dinding sudah jam sepuluh malam, diluar hujan mulai reda, kesunyian kini ditambah hawa yang dingin hingga kepori-pori, aku sudah lelah, akhirnya aku tertidur. Ony - 2001 __________________ There be a light Don't be so happy when the love was come Don't be sad when the love was lose Just find another love |