Sepertinya Anda belum terdaftar di Komunitas Untuk Semua. Untuk mendaftar silakan klik di sini...

Welcome to the forums
Community
Navigation
Navigate through our site
Home
Forums
Register
Blogs
Groups
Gallery
Games
Radio & TV
Calendar
Members List
FAQ

Sponsored Links
Some words from our sponsors

Our Networks
Our sister websites
Surya Citra Media
Surya Citra Televisi
Liputan6.com
LiputanBola.com
SCTV Awards
SCTV Music Awards
Info Karir SCTV
Welcome, Unregistered.
Member Panel
Go Back   Komunitas Untuk Semua » Community » The Lounge

The Lounge Diskusi dengan topik bebas (selain kategori yang ada). Mohon tetap menjaga kesopanan dalam diskusi. Posting yang menyinggung SARA atau beriklan serta mempromosikan produk akan dihapus serta account dinon-aktifkan!

Post New Thread  Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 05 March 2008, 02:56 PM
Member
 
Join Date: February 2006
Posts: 58
Rep Power: 3
sibin is on a distinguished road
Default >>> Celana Melorot ^,^ (Demokrasi Mati karena PUser keTutup)

Celana Melorot

Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua kota di negara bagian Louisiana, AS membuat peraturan baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot di bawah pinggang yang memperlihatkan (maaf) celana dalam mereka.

Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis 29 Agustus 2007, diterima secara bulat. Larangan ini lahir setelah warga memprotes gaya berpakaian para remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan.

Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi, beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai protes. Tidak ada aktivis yang menyatakan peraturan tersebut melanggar hak asasi manusia, antipluralisme, dan konservatif.

Bayangkan jika di Indonesia, negara yang baru saja menghirup udara demokrasi. Louis Marshall akan dikecam dan dianggap telah membunuh kebebasan individu untuk berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut bahkan akan diejek sebagai 'campur tangan pemerintah terhadap hak pribadi warga negara'.

Ini yang terjadi di Indonesia. Pada Desember 2004, seratus hari pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kegusarannya atas tayangan televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab ketika itu, Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial itu meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan pusar perempuan. "Itu sangat mengganggu," kata Presiden saat itu.

Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama berbagai reaksi dari kalangan aktivis perempuan bermunculan dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media massa. Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar prinsip demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan individu berekspresi.

Quote:
Dasar Jablai.... :hihi:
takut gak ada yg membelai....sorry.... %peace%
Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut mereka, apabila negara dibiarkan mengatur hak pribadi warga negara, di antaranya soal pusar tadi, maka demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi, pun mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka menentang Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi.

Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur tubuh perempuan demi kepentingan politik konservatif.
Alexandria dan Shreveport, dua kota di negara bagian Louisiana, AS, telah memberlakukan keputusan, yang melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot.

Keputusan itu disambut baik warga, yang sejak lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada yang protes dan menyebutnya sebagai antikebebasan berekspresi, antipluralis, konservatif, dan pertanda matinya demokrasi.

Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan, sesungguhnya tidak mati hanya karena pelarangan celana yang melorot dan pelarangan memperlihatkan pusar. Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di masyarakat, nilai-nilai agama, dan menyebutnya sebagai konservatif yang memungkinkan sistem itu kehilangan esensinya.

Di Alexandria dan Shreveport, remaja-remaja tidak lagi mengenakan celana melorot. Mereka tidak merasa menjadi konservatif apalagi antidemokrasi.

Di Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf) celana dalamnya menyembul.

Inilah yang disebut para aktivis sebagai kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu sangat takut demokrasi mati hanya karena remaja menutup pusarnya. (Asro Kamal Rokan )

Quote:
APA HUBUNGANNYA DEMOKRASI Dengan PUSER ?
Ayo....siapa yang mau JAWAB .....^,^

************************************

GAGASAN Kebebasan Perilaku Remaja
manga apa yg kamu menyesal setelah membelinya?

Anak Indonesia Rentan Pengaruh Pornografi
Anak Indonesia Rentan Pengaruh Pornografi

"Menyeret Pemilik Situs Porno Berdasarkan Perjanjian Kerja"
"Menyeret Pemilik Situs Porno Berdasarkan Perjanjian Kerja"

Lima Dari 100 Siswa Slta Di Dki Berhubungan Seks Sebelum Menikah
Lima Dari 100 Siswa Slta Di Dki Berhubungan Seks Sebelum Menikah

Diperlukan Keseriusan Aparat Perangi Pornografi Anak
Diperlukan Keseriusan Aparat Perangi Pornografi Anak

36 RIBU JANIN DI BUNUH REMAJA DI LUAR NIKAH.
36 Ribu Janin Di Bunuh Remaja Di Luar Nikah

"Cina Kampanye Anti PORNOGRAFI Internet"
"Cina Kampanye Anti PORNOGRAFI Internet"

China Tutup 44.000 Situs Porno Selama 2007
China Tutup 44.000 Situs Porno Selama 2007

^.^ Menggugat Tanggung Jawab TV
^.^ Menggugat Tanggung Jawab TV

Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!!
Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!!
__________________

Al-Qur'an Online
Media Watch

Last edited by sibin; 06 March 2008 at 07:54 PM.
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Sponsored Links


Post New Thread  Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On




All times are GMT +8. The time now is 05:06 AM.
Powered by vBulletin®, Copyright ©2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73