Diskusi Nanem Kapidosan Dhumateng Allah Mari bergabubng dalam diskusi kami : P. Aji : Bagaimana membangun keyakinan kepada Allah yang sering disebut dengan KEIMANAN, agar betul-betul terwujudkan dalam pribadi kita. Jangan sampai Iman dalam pribadi tersebut hanya menjadi perasaan, hanya merasa sudah beriman, tetapi disana-sini masih muncul tanda-tanda sebenarnya kekuatan iman belum terwujudkan dalam pribadi kita. Gugus : Perasaan yang mana....? bila kita gali lebih dalam tentang perasaan manusia, sangat kompleks (percaya deh...! kalo kita bener2 paham, ngerti..ti..ti.. hakekatnya 'Man 'arofa Nafsahu') dijamin bakal tau tentang rasa... karena manusia memiliki unsur Sirrullaah, tapi yg mana? kapan berfungsinya? Kenapa dlm keseharian lebih dominan perasaan duniawinya? (perasaan yg terkontaminasi oleh Jin bahkan manusianya itu sendiri), mana Sirrullaahnnya? P. Aji : Yang dimaksud dengan perasaan menurut kamus Bausastra Jawa adalah “rasa pangrasa”, sedang menurut budaya spiritual jawa pangrasa adalah rasa yang dirasakan akibat aktifitas Nafsu, sehingga kalau itu dipelajari akan menjadi suatu yang komplek, dan cenderung akan menjadi kabur, begitu juga dengan rasa yang diyakini sebagai unsur rokhani yang diluar (bukan) Nafsu, kalau belum pernah merasakannya orang akan sulit membedakan antara rasa dan perasaan. Yang hakekatnya perasaan adalah bukan rasa, contohnya rasa Iman dan perasaan beriman, begitu juga dengan ngerti dan merasa (rumangsa) ngerti, itu berbeda. Kemana Sirollah, saat Nur terkontaminasi ? Nur manusia langgeng tan kenaning pati, dia ada pada diri manusia selama manusia hidup didunia, dan dia keluar dari raganya disaat si raga rusak, yang disebut mati. Dia terbelenggu saat diri dikuasai Nafsu, “curiga manjing warangka”, dia membelenggu nafsu disaat manusia beriman (nandhang iman), “warangka manjing curiga” atau “kodhok ngemuli lengge”. Tinggal bagaimana keadaan kita, dan bagaimana niat kita, kita bebas menaruh diri, dan Tuhan memberikan purba wasesa (kekuasaan diri) seluas-luasnya kepada manusia untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya. P. Aji : BANYAK CARA YANG ADA DI TENGAH MASYARAKAT, BAGAIMANA MEMAHAMINYA, DAN BAGAIMANA SEBAIKNYA ? Gusgus : Terlepas dari agamanya apa, memang banyak cara dimasyarakat : Islam,,,, bakal ada 72 versi islam, tapi islam hakekatnya cuma satu, caranya yg banyak (terakomodasi melalui kebiasaan, tradisi, komunitas, gaya yg ngimamin,,etc,,etc) tapi Islam ya...Islam cuma satu..! ; Kristen,,,,,, makin banyak aje versinya,,,,,,,, diawali Martin Luther King dg Protestannya, terus skrg berkembang ada Bethel (Bethany), Advent, Tiberias, Pantekosta, GPIB, GMIM, etc,,,etc,,, tapi diklaim cuma satu, Kristen doang (yg lebih xtrim ada klaim, diluar Katholik semuanya Sekte, sementara di Katholik ada Kharismatik yg berbau Bethel) gmna coba...! ya begitulah.... itulah yg terjadi..! &n bsp; Hindu,,,,, ada Hindu Syiwa,,,, Hindu Wisnu,,,, etc.... Budha,,,,,, community oriented..... bla....bla...bla.... &nbs p; &nbs p; Ada lagi kebathinan, kejawen,Tri Tunggal Sabda Bhawana,,,,, Kesucian,,,,,, dll...dlllll..... P. Aji : Begitulah keAgungan Tuhan, dan begitulah ungkapan rasa cinta manusia terhadap Tuhan, dengan segala keterbatasannya manusia berusaha mencapai kesempurnaan keyakinan dan hubungan dengan Tuhannya. Apapun caranya dan bagaimanapun bentuknya, apapun cara yang dipilih pasti diyakini mampu menghantarkan dirinya dekat dengan Tuhannya. Tentunya antara orang yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan, walaupun dia sudah seagama maupun satu kepercayaan. Gusgus : Memahaminya..? GAK PERLU..........!!!!! gak bakalan sanggup kita memahami fenomena Agung dari yg maha Kuasa, kalopun mau coba memahami, pan ada global scriptnya.....ALQUR'AN.....! P. Aji : Dengan orientasi pemahaman pada Hakekat dan perwujudan bukti dan kesaksian akan adanya Tuhan, KeEsaan Tuhan, serta keMaha Kuasaan Tuhan, apapun cara yang ditempuhnya, dari manapun dia memulai, asalkan tiada henti, maka Tuhan akan menuntunnya. Last edited by Parastuwaji; 18 October 2006 at 09:16 PM. |