Hamparan tabung-tabung raksasa, terlihat jelas dari
angkasa memenuhi sepanjang pantai kota Balikpapan.
Pemandangan serupa juga terdapat di pantai antara
Balikpapan dan Samarinda, yang melewati kabupaten
Kutai Kartanegara. Tabung-tabung raksasa itu merupakan
tempat penyimpanan minyak, yang disuling dari tanah
dan laut Kalimantan Timur. Jumlahnya sangat banyak dan
menyumbang sepersekian produksi minyak di Indonesia.
Boleh disebut, Balikpapan sebagai salah satu lumbung
minyak mentah terbesar.
Tapi kemarin saat andre pulang dr lokasi tepat memasuki gerbang kota Balikpapan, 2 april 2008, saya menemukan kejadian
yang bertolak belakang dengan fakta di atas, sebuah pemandangan unik terjadi.
Puluhan warga antri minyak tanah, hehehe…
Apakah ada pembagian minyak tanah gratis? Kan mereka
penghasil minyak mentah yang melimpah. Mungkin ada
perusahaan yang berbaik hati setahun sekali bagi-bagi
minyak gratis. Eh ternyata bukan. Antrian itu akibat
langkanya minyak tanah di Balikpapan dan kota-kota
lain di seluruh Indonesia. Mungkin bila kota lain yang
jauh dari sumber minyak masih bisa 'dimaklumi', tapi
kalau antrian minyak langka ini terjadi di dekat
sumur-sumur minyak, apa kata dunia?
Hmm… di kabupaten Kutai Kartanegara (Lebih tepatnya di kampungnya liviya,dipedalaman nan jauh dimato..) lebih parah lagi
karena bukan hanya antrian minyak tanah yang langka.
Warga juga tersiksa kekurangan pasokan listrik, hampir
tiap hari ada pemadaman. Sementara di pulau Jawa,
khususnya Jabotabek yang tidak punya sumber minyak
bumi, listrik menyala sampai jauh tanpa henti. Kenapa
di lokasi tempat penyulingan minyak, listrik justru
byar pet. Bukankah di pembangkit listrik salah satu
bahan bakar utamanya adalah minyak? Aneh…
Warga sekitar akhirnya biasa mengalami byar pet
listrik ini. Seperti puasa nabi Daud, sehari menyala
sehari mati. Mereka sampai punya jadwal lengkap
matinya lampu PLN ini, mirip jadwal imsak bulan puasa
atau jadwal pertandingan sepakbola Piala Dunia, yang
ditempel di dinding rumah mereka. (Yg buat jadwal om num nih...)
Jelas warga dirugikan. Alat-alat elektronik menjadi
rusak lebih cepat daripada seharusnya. Alat canggih
sekalipun akan kaget bila harus kehilangan kekuatan
secara tiba-tiba. Secara hukum, mereka berhak
menggugat. (TV ku Barusan jadi korban..alamat seminggu off ga liat dangdut mania..)
Aneh… aneh… aneh…
Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara adalah
wilayah yang kaya dengan sumber daya alam. Energi dari
perut buminya melimpah ruah. Mereka memang lebih
makmur dibanding sebagian besar wilayah lain di negeri
ini. Setiap desanya saja mendapatkan subsidi sekitar
Rp 2 miliar pertahun. Pegawai rendahan sudah tidak mau
lagi digaji dibawah Rp 1 juta. Tapi kok untuk urusan
energi, mereka malah ketinggalan. Minyak tanah harus
mengantri, listrikpun sulit untuk dinikmati.
Mereka hanya bisa menikmati tabung-tabung minyak
raksasa yang memenuhi pantai…indah bgt klo malam hari..ntar ta kirimin foto2nya...)
