Assalamualaikum Wr Wb
Sekian ribu anak, perempuan, dan lelaki tampak lusuh di sudut Pasar Porong, Sidoarjo. Bau tubuh mereka bercampur baur kecut, apek, basin, dan aroma mulut orang lapar. Tatap mata mereka nanar dan kosong seolah menanti kepastian yang tak kunjung tiba.
Sudah sekian puluh hari mereka melewatkan hari demi hari di Pasar Porong yang kumuh dan sumpek. Tak tahu kapan bisa kembali ke rumah untuk menata hidup dan menjalin silaturahmi. Nyaris tak ada yang peduli.
Hari-hari mereka diisi penantian untuk memperoleh kepastian: kembali ke rumah yang sudah tenggelam atau menerima uang pesangon untuk membeli rumah baru di desa lain. Tak jelas dan absurd.
Tetapi teman-temanku sebaya seperti Nasim, Nuning, Wiguno, Landuk, Yayuk, Sabar, Cipto, Suminah, Munawar, Manto, Wantini, dan Idrus tetap serius sekolah. Buku sekolah dan baju seragam mereka yang hancur dilumat lumpur, tak menjadikan mereka mangkir sekolah.
Ya, Allah yang Maha Tahu apa yang terjadi esok, aku minta jadikan teman-temanku tersebut anak-anak yang soleh dan tidak gampang kalah.
Ya, Robbi tunjukkan yang salah itu salah dan kebenaran selalu muncul walau dari kedalaman lumpur sekalipun.
Ya, Karim muliakanlah orang-orang yang teraniaya, saudara-saudaraku korban lumpur PT Lapindo Brantas.
Ya, Rahman beri pencerahan kepada orang-orang yang telah berbuat zalim.
Amin ya robbal alamin
