ha.. ha.. ha....
memang menyesal tapi tidak sampai membenci mereka, rocker juga manusia, apalagi mereka, juga manusia (yang bisa berbuat kesalahan). Cuma kalau sudah salah buru-buru diperbaiki, apalagi yang menyangkut hidup orang banyak.
Dari yang saya ketahui,
Di Muara Baru, Jakarta Utara, kapal-kapal penangkap ikan tuna (long line) diikat (tidak melaut) satu per satu karena harga solar yang meledak menjadi Rp5000an dan dinaikan lagi menjadi Rp6200 (seperti harga industri) dari harga Rp2100. Semua sedang pusing, dari anak buah kapal (ABK) hingga pemilik kapal, sebagian sudah jadi pengangguran dan sebagian lainnya akan menyusul, pekerja dan usaha lainnya yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan usaha laut akan tutup dan bergabung jadi pengangguran. Sedihnya..
Padahal sebagian besar ikan tuna diekspor dan kapal-kapal ikan tuna sebagian besar mencari ikan tuna di perairan internasional. Kalau di perairan internasional berarti ikan-ikan di sana milik rame-rame, semua nelayan dari semua negara di dunia boleh menangkapnya dan dibawa ke negaranya. Tapi oleh nelayan Indonesia ikan-ikan tuna di tangkap dan dibawa masuk Indonesia untuk diekspor ke Jepang dan uang Yen masuk ke Indonesia.
Di tempat lain, Muara Angke, kapal-kapal nelayan juga sedang diikat (tidak melaut) satu per satu karena meledaknya harga solar dari harga Rp2100 menjadi Rp4300 dan Rp6200. Semua sedang pusing juga, dari anak buah kapal (ABK) hingga pemilik kapal, semua akan jadi pengangguran, pekerja dan usaha lainnya yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan usaha laut akan tutup dan bergabung jadi pengangguran. Kok bisa jadi seperti ini? Sedihnya..
Di tempat lainnya, saya dengar senasib juga. Sedihnya..
Kalau kita mengganggur maka siapa yang akan mencari makan untuk keluarga kita, pemerintah? DPR? Kan tidak mungkin mereka mau mencari makan untuk keluarga kita karena mereka mencari makan untuk keluarganya sendiri.
Kalau rakyat susah dan menganggur, lantas apa keuntungan dan kebaikan yang diperoleh pemerintah dan DPR?
Sebagian hasil laut kita diekspor ke negara lain seperti Jepang, Taiwan, Malaysia, dll. Orang Malaysia mengatakan ikan dari negara kita ini lebih enak dan gurih dari ikan dari Thailand (seharusnya nelayan Thailand dan lainnya tahu hal ini).
Kalau nelayan-nelayan Indonesia terpaksa (dipaksa) tidak melaut dan mengikat kapal di pelabuhan, maka nelayan-nelayan dari negara tetangga akan diuntungkan & mungkin saja sebagian dari mereka ada yang masuk dan mencuri ikan dan hasil laut lainnya dari Indonesia dan dibawa ke negaranya untuk konsumsi rakyat di sana dan untuk dijadikan devisa negerinya. Mungkin pemerintah dan DPR tidak merasa rugi, tapi rakyat rugi.
Kalau negara lain mengimport ikan dari kita, berarti harga ikan di sana lebih mahal dari di Indonesia (begitu juga daya beli rakyatnya lebih tinggi dari Indonesia), maka pengusaha di negara itu mau mengimport dari sini karena ada untung. Begitu kan?
Kalau 1 kapal ikan ada 5-50 orang ABK, ada berapa kapal di seluruh Indonesia? Dijumlahkan semua ABK jadi ada berapa? Ditambah dengan keluarga mereka jadi ada berapa orang Indonesia? Belum dari usaha-usaha lainnya dan usaha lainnya yang di Indonesia. Bisa banyak yang nganggur.
Memang sih.. kebanyakan pejabat dan orang-orang DPR itu orang-orang kaya, jadi kompor di dapur mereka akan tetap nyala walaupun harga minyak tanah dan solar sampai puluhan ribu sekalipun.
Padahal Bapak SBY dapat menduduki kursi kehormatan dari rakyat ini karena dukungan sebagian besar nelayan dan petani, mungkin beliau sudah lupa.
Yang saya dengar kalau di Jepang, pemerintah ‘takut’ dengan nelayan dan petaninya, karena kalau sampai membuat petani (nelayan) marah maka tak akan menang di pemilu yang akan datang, dan tentu saja karena pemerintah di sana peduli dan sayang pada rakyat dan negaranya, tapi di sini kok sepertinya tidak begitu.. dan sepertinya kekuasaan tertinggi bukan milik rakyat dan sepertinya negara ini bukan milik rakyat... Kita semua juga punya perut yang harus diisi dan keluarga seperti Bapak SBY.
Korban dari ledakan harga solar dan minyak tanah pasti lebih banyak dari ledakan bom.
Dari yang saya dengar kalau hitungan subsidi bbm itu cuma angka di kertas, bukan arus uang yang sebenarnya (cash flow). Negara kita kan punya minyak mentah sendiri, tapi karena jumlah konsumsi minyak kita masih di atas jumlah produksi sendiri maka pemerintah perlu mengimport kekurangannya. Nah.. seharusnya kekurangannya itu yang ada subsidinya sedangkan minyak milik Indonesia (rakyat) seharusnya tidak ada subsidi karena ongkos produksi minyak masih di bawah harga minyak negara kita yang kemarin. Dan dari jumlah selisih harga jual minyak milik sendiri dengan ongkos produksi dapat menutupi subsidi pemerintah untuk minyak yang diimport.
Misalnya, produksi sendiri (sesudah dibagi dengan penambang) masih ada 850 ribu barel (biaya produksi rata-rata setiap jenis minyak Rp 650), konsumsi rakyat 1,2 juta barel, maka 350 ribu barel yang harus dibeli oleh pemerintah (pertamina) dari negara lain dengan harga internasional. hitung aja sendiri deh..
Jadi pemerintah berandai-andai kalau semua minyak tidak dijual ke rakyat sendiri tapi dijual ke pasar internasional maka berapa uang yang akan didapat (opportunity cost).
Supaya mudah Kira-kira oleh Bapak Kwik Kian Gie diumpamakan seperti ini: seorang istri setiap pagi memasak nasi goreng yang lezat (seharga Rp20000) untuk suaminya, tapi setiap hari juga sang suami dimaki-maki karena gara-gara nasi gorengnya dimakan oleh suaminya maka istrinya merasa rugi Rp40000, seandainya nasi goreng itu tak dimakan suaminya tapi oleh istrinya dijual ke restoran Sangrila maka dapat Rp60000. Perumpamaan yang bagus bukan? Nonton deh.. channell Q tv.
Yang saya terjemahkan, coba kalau sang suami (rakyat) tak makan maka istrinya (pemerintah) akan dapat Rp60000 tapi karena yang memakan nasi goreng itu suaminya maka sang istri merasa rugi Rp40000,- (opportunity cost) (subsidi).
Tapi kalau tak makan, suaminya kelaparan dan tak bisa kerja donk, tak sayang sama 'suami'?
Kalau kelak semua yang (akan) menganggur ini bergabung mendirikan Partai Pengangguran maka Partai Golkar dan Partai Demokrat tak akan menang. Coba bayangkan..
Padahal waktu itu saya senang sekali SBY yang menang.
Kok saya merasa kalau pemerintah sudah tidak peduli lagi maka yang pasti mau mendengarkan dan menolong rakyat banyak itu bukan partai (DPR) tapi organisasi seperti NU dan Muhammadiyah.
Zaman Soeharto jadi masih lebih baik, tidak sekacau sekarang ini. Saat itu semuanya terkendali oleh pak Harto. Aparat, pejabat dan harga-harga lebih terkendali tidak sekacau sekarang ya..
Sedang risau nih.. kelihatannya akan jadi pengangguran sesudah Idul Fitri.
Lebih baik ngelamar jadi pejabat saja.
Jangan-jangan saya sedang tertidur

dan mimpi buruk.. tolong cepat-cepat bangunkan saya...
waduh.. message ini jadi terlalu panjang. (tulisan message selalu hampir tertulis massage)
O..i.. ya.. selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang sedang puasa.