"..mosok dubes begitu.." (ngobrol imajiner dg bung karno) :-> Hanyut dan larut dalam persoalan yang carut marut menimpa bangsa ini togok sampai ngelindur dan mimpi ketemu bung karno (Bk). Maka berlangsunglah sebuah obrolan imajiner dengan beliau. Togok : lho, bung karno, apa kabar sampeyan. Kebetulan ini saya ketemu anda. Bk : aku baik-baik dan tentram-tentram saja. Kenapa wajahmu kok tampak kusut sekali. Togok : ah, sampeyan ini kayak nggak paham aja. Apa sih yang tidak kusut di nusantara ini. Bk : udahlah jangan dipikirin, nanti makin kusut lho Togok : jadi saya disuruh berhenti berpikir ? Wah gimana ini, anda sih enak udah tentram disana, kita disini makin repot je.. Bk : apa lagi sih masalahmu Togok : ini bukan masalahku bung, ini masalah bangsa dan negara Bk : emangnya negaramu juga ikut mikirin kamu Togok : ya gak paham aku kalau soal itu, yang jelas ini menyangkut soal nasionalisme dan kedaulatan bangsa Bk : udahlah langsung aja poinnya apa, biar ngelindurmu ini tidak panjang-panjang dan yang baca juga tidak bosan Togok : itu lho soal klaim malaysia atas blok ambalat Bk : oh, malaysia lagi tho yang jadi masalah, so what gitu loh.. Togok : lho khan dulu anda begitu tegas dan gencar dalam soal malaysia ini, kok sepertinya anda cool-cool aja, gimana dong.. Bk: lha mosok aku yang sudah damai di alam lain ini disuruh ngurusi soal duniamu lagi, emangnya pemerintah negaramu ngapain aja Togok : itulah masalahnya, banyak rakyat kita yang bilang pemerintah kita ini tidak tegas terhadap negeri jiran tersebut Bk : wah ya mestinya kalianlah yang sealam dengan mereka yang mendorong untuk lebih tegas dalam rangka menyelamatkan kedaulatan kalian. Dulu aku khan sudah memberi contoh agar bisa dijadikan inspirasi. Apa semua itu belum cukup ? Togok : ya setidaknya mumpung kita saat ini sedang bertemu kasihlah saran agar kita bisa lebih bersemangat Bk : tanpa aku memberi saranpun mestinya kamu sudah bisa melihat, menilai, belajar, dan berpikir apa yang seharusnya dilakukan untuk jangka pendek ataupun jangka panjang dalam persoalan itu Togok : lalu untuk jangka pendeknya apa saran dari bung ? Bk : ganti dulu dubesmu yang di malaysia itu Togok : emang kenapa dengan dubes itu Bk : apa kamu tidak melihat dan menilai, mosok sikap dubes seperti itu. Dubes itu wakil sebuah negara yang ditempatkan di negara lain. Harus punya wawasan kebangsaan, geopolitik, nasionalisme dan menjaga martabat negaranya. Mosok baru diprotes oleh kumpulan pemuda malaysia sudah langsung nunduk-nunduk minta maaf dengan naif kayak gitu. Ia malah balik mengecam para pelaku aksi demo dan minta agar aparat negaramu menindak para pelaku demo terhadap kedubes malaysia di jakarta. Ibarat penjaga gawang dalam permainan sepakbola, dubesmu itu telah dengan sengaja menjebloskan bola ke gawangnya sendiri. Minta maaf boleh-boleh saja, tapi lihat dulu persoalannya, pada tempat dan waktu yang tepat. Dia itu ditempatkan sebagai dubes, diplomat, yang mewakili kedaulatan bangsanya bukan macam pengemis yang bisa diombang-ambingkan dan didikte di negara orang lain. Dan lagi apa dubesmu itu tidak bisa menggunakan bahasa yang diplomatis sedikit dalam merespon protes para pemuda malaysia itu. Kok naif banget sih. Untuk kapasitasnya sebagai seorang dubes sebelumnya ia juga bersikap menyedihkan ketika ada seorang tenaga kerja indonesia yang berlindung di gedung kedubes indonesia di malaysia karena menghindari kejaran razia polisi setempat. Kamu tahu apa yang dikatakan dubesmu itu ? Ia berkata bahwa jika ada polisi malaysia yang datang ke gedung kedubes indonesia itu, maka ia akan menyerahkan tki tersebut kepada pihak polisi. Mosok seorang dubes berkata kayak gitu, seolah ia tidak tahu bahwa ketika seorang warga negara berada dalam gedung kedubesnya maka ia sama saja berada dalam negaranya dan punya hak imunitas dan kedaulatan yang tidak bisa digangggu gugat oleh aparat ataupun pemerintah dari negara asing dimana kedubesnya itu berada. Mosok wawasan dan pengetahuan yang paling dasar dari seorang dubes saja sampai tidak dipahami. Ia bahkan seolah ingin lepas tangan ketika seorang warga negaranya sendiri bermaksud minta perlindungan di kedubes dimana ia menjabat sebagai duta besar negaranya. Togok : lalu saran jangka panjangnya apa bung ? Bk : wah, itu kamu pikirkan saja sendiri karena kamu masih mampu untuk berpikir. Kamu khan masih hidup, otakmu masih jalan. Kamu bisa asah dengan belajar dan banyak membaca literatur yang ada. Kalau sedikit-sedikit mesti minta saran nanti kamu jadi malas berpikir, lalu kualitasmu jadi seperti dubesmu itu. Ucapanmu di awal dialog ini sendiri menyiratkan bahwa kamu tak mau disuruh berhenti berpikir. Jadi teruslah berpikir.. --- |