Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi.
Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk
bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan
perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke
hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih
belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin
besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama
kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati
Nania, atau membuat Nania menangis. Bayi yang
dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah
lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania.
Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat
sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam
hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun
yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan,
delapan jam setelah obat pertama, Nania tak
menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa
sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima
menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan
lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster
empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan
Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor
yang tinggi.
Tiga puluh jam berlalu. Nania baru pembukaan
dua. Ketika pembukaan pecah, didahului
keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab
dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah
ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang.
Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa
sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya.
Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi
tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang
istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit
tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa
tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak
melepaskan genggaman tangannya hingga ke
pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri
lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan
serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya
hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania
merasa berada dalam perahu yang diguncang
ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan
langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli
bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti
melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
mendekat. Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang
meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut
rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam
kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa
termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania
menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa
cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan
meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu
Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit.
Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang
baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan,
fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai empat hari, mereka sudah boleh
membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang
ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali
mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan
antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin
penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak
perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya
dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat
lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-
cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania
bisa merasakan kehadirannya. Nania, bangun…,
Cinta!? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang
sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya
yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli
masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah
sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam
tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu
membawakan buku-buku kesukaan Nania ke
rumah sakit dan membacanya dengan suara
pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.
Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Nania,
bangun,.. Cinta!? Malam-malam penantian
dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di
sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak
memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama
tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus
akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan
kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu
lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang
pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan
syukur berulang-ulang dengan airmata
yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak
penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah
lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu
mengantar anak-anak ke sekolah satu persatu.
Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-
cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke
teras, melihat senja datang sambil memangku
Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat
perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski
seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus
dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania,
membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
perempuan paling cantik dan sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka
sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia
selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun
Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu melibatkan
Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka
semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke
sana kemari. Masih dengan senyum hangat di
antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-
orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-
tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak
puas hanya memberi pandangan iba, namun juga
mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah
cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang
menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian
lihat bagaimana suaminya memandang penuh
cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang
tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat
membuat Nania makin frustrasi, merasa tak
berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
kemudian. Orang-orang di luar mereka memang
tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya
bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali
perempuan itu ikut tergelak melihat kocak
permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua, anak-anak yang
beranjak dewasa, rumah besar yang mereka
tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia
syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia,
meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar
biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah,
untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..
Writen by: Asma Nadia
==================
hasil contekan
capek 'ah
