Demikian, dialog singkat dari pengalaman Nara Sumber (shodri) dengan seorang amir berkebangsaan Pakistan. Sebelumnya, penulis juga beberapa kali mendapatkan dialog yang hampir sama, perbedaannya; yang terlibat dialog keduanya ‘orang lokal’, antara ‘ustadz’ dengan muridnya, dan antara ‘orang biasa’ dengan ‘orang biasa’. Mengapa dialog yang melibatkan orang ‘impor’ ini yang dipilih untuk dituliskan? Penulis menyadari ‘budaya’ orang kita terutama sekarang ini, yang mengambil hikmah dari salah satu sumber hikmah, yaitu; dialog antara sesama manusia, dengan melihat ‘kulit’ atau ‘sisi terluar’ atau ‘permukaan yang paling dangkal’ dari orang yang terlibat dalam dialog itu. Dan bukan mendengarkan dialognya. Dan alasan mengapa, ketika berada dalam suatu pembicaraan (dialog, diskusi.dsb), masyarakat kita (umat islam Indonesia khususnya dalam konteks wacana ini) ‘melihat’ dulu dan bukannya ‘mendengar’, adalah karena budaya lain lagi, yaitu; imej budaya ‘hanya orang fisika yang bisa dan boleh berbicara masalah fisika’, ‘hanya orang politik yang boleh dan bisa berbicara politik’, ‘hanya orang kitab yang bisa dan boleh berbicara masalah kitab’, ‘hanya orang hadits yang bisa dan boleh berbicara soal hadits’. Nah, akan seluas dan seakurat apa gambaran kita tentang dunia bila kita membentuk komunitas sendiri dan membatasi diri dari komunitas lain? (bayangkan akan sebodoh dan serugi apa kita bila tidak bisa dan tidak boleh membicarakan, dan mencari tahu tentang banyak hal? Padahal mencari tahu, untuk memperkaya data sebagai modal berfikir sangat dianjurkan, bahkan kewajiban bagi umat muslim. Coba lihat kembali pedoman (Al-Qur’an) kita, seberapa banyak ayat yang memuat kata, berfikir!) Sekarang bahkan, adalagi imej baru yang berkembang dan lebih dahsyat, yaitu; ‘hanya orang bergamis, memelihara jenggot, bertutup kepala dan bergaul hanya dengan sesama mereka saja yang soleh’. Bayangkan kalau kita muslim yang beribadat dan mencari kebaikan dari Allah bertemurun hidup di antartika, berpakaian tipis, longgar, dan panjang hanya akan menyulitkan hidup kita, yang berarti menyulitkan hidup keluarga kita dan ligkungaan komunitas kita. Atau, seperti kebanyakan orang asia, kita tidak memiliki bulu yang bisa ditumbuhkan menjadi jenggot. Apakah karena itu kita kemudian dijauhi oleh komunitas ‘orang saleh’? dan karena itu kita tidak pernah jadi sebenarnya muslim? Apakah islam mempersulit? Tidak pernah! Agama, seperti tercantum dalam pedomannya (Al-Qur’an) mempermudah. Jadi yang mempersulit itu adalah orang – orangnya, mereka yang ‘ternobatkan’ ataupun ‘dinobatkan’ ataupun ‘menobatkan diri’ sebagai panutan, yaitu; orang – orang yang, (maaf) katanya, soleh dengan kriteria tadi. Dan yang harus kita pahami adalah, semua imej tersebut ditanamkan!!! Dia tidak muncul dengan sendirinya dari ‘hati yang paling dalam’. Lainnya adalah, kemana arah imej – imej tersebut akan membentuk kita (umat islam Indonesia)? Satu hal yang sudah sangat terlihat adalah; umat kita berkembang ke arah; individu – individu yang tidak (pernah) mandiri dalam hal keagamaan. Mereka mengikuti begitu saja apa kata ‘ustadz’-nya, dan itu karena ustadznya fasih berbahasa arab, hafal 30 juz juga hadits sampai riwayat, kemudian berpenampilan seperti zaman Rasulullah, bertutur kata manis bersikap alim seperti, selalu berada pada rute yang sama; rumah, mesjid, pertemuan para ‘solihin’, pengajian, dan aktifitas yang berhubungan dengan semua yang berbau agama dan melabelkan aktifitasnya dengan agama. Kenyataan banyak sekali memperlihatkan contoh mengenai ‘musang berbulu domba’ atau ‘hitam berselubung putih’, lihatlah banyak kasus soal wakil – wakil rakyat. Mereka mendapatkan kepercayaan dari rakyat, kepercayaan tidak mudah diberikan kecuali dengan peyakinan.Imej mereka tentulah ‘bersih’, ‘baik’ dan sebagainya sehingga mendapatkan kepercayaan kita dan mereka mempertahankan imej itu dalam waktu yang panjang, mulai dari meniti karir di kecamatan sampai tingkat nasional. Tapi lihat setelah di puncak, korupsi. Pernah seorang teman diskusi berkata;”Kalau saya Yahudi atau Kristen, mudah merusak islam sekarang ini. Hafalin Qur’an dan Hadits, berpakaian seperti zaman Rasul, bergaul dan membatasi gaul hanya dengan orang – orang yang sepenampilan, dan mengikuti semua aktifitas serta kegiatan keagamaannya. Lalu bentuk pengajian dan sering ceramah. Dalam setahun, apalagi dengan dukungan dana kuat, minimal 2 kabupaten jadi ‘kader’ saya.” Betul juga, gumam saya, mengingat ketidak mandirian berfikir kebanyakan umat kita, dan karena kebanyakan sistem ‘peng-islaman orang islam’ dalam bentuk pengajian dan sebagainya tidak mengarahkan ke sana, yaitu, kepada kemandirian akal dan mental, dan mempermudah akses untuk memperkaya data sebagai modal berfikir sebelum menyimpulkan kemudian mengaplikasikannya. Akan tetapi, lihatlah, ‘kelebihan’ (kebanyakan) umat kita adalah dalam hal ego dan emosi. Malah, diperparah dengan pembatasan akses untuk memperoleh banyak masukan melalui peng-‘eksklusifan diri’ membentuk komunitas sendiri dan memperlihatkan perbedaan yang mencolok yang kaku terhadap fluktuasi kondisi zaman. Agama, gencar di mana – mana dan terorganisir, di tanamkan melalui semua media (radio, TV, dakwah, pangajian, pengobatan, dan segala rupa bentuk kegiatan lainnya) dengan sistem; “ini nih, begini! Jadi, ya harus begini. Kalo ga begini, maka kamu akan jadi begitu, dan kamu bukan golongan kami.” Itu, ditanamkan tanpa penjelasan yang bisa diterima oleh beragam cara penerimaan. Pada akhirnya pendakwah hanya akan mengarahkan umat kepada pemahaman pendakwah tersebut, yang nyata – nyata menjadi sangat sulit dikarenakan keragaman cara penerimaan tadi, sehingga umat terkondisikan untuk mengikuti saja apa kata ustadz. Allah yang memberi kita fasilitas untuk berfikir, menjadi khalifah dan menyediakan begitu banyak hal untuk kita fikirkan, tapi kita malah memilih, atau dikondisikan, untuk tidak menggunakan fasilitas yang diberi Allah, dan memilih untuk menjadi ‘domba’ serta membatasi diri dengan mengambil sedikit hal yang dapat dimengerti dan memisahkan sisa yang sedemikian banyaknya ke dalam kategori ‘ghaib’. (yang kemudian kategori tersebut akan menjadi ‘tidak terjelaskan’, sehingga akhirnya ‘tidak dapat dibenarkan’, dan bertambahlah daftar hal yang ‘haram’. Padahal semua itu disediakan Allah, diciptakan oleh Allah dan tidaklah dengan sia – sia. Dan, letak kesalahannya hanya pada kita yang membatasi diri kita dari pengetahuan.) Apakah itu tidak lain melainkan dzalim terhadap karunia dan ketetapan Allah?! Apakah tidak ada yang lebih kurang ajar lagi?!?! Dan apakah itu yang diharapkan Allah dari makhluk-Nya? Karna kalau demikian, Rasulullah tentu akan menyatakan dirinya; “Akulah gembala bagimu wahai umatku!”. Masya Allah, apa bedanya kita dengan kristiani? Umat yang selalu ‘kita’ kafir – kafirkan itu. Lalu untuk apa Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat dalam pengertian; pedoman, yang tentu akan sesuai untuk siapa saja (ras, bangsa, budaya, bahasa, tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, dlsb.), untuk kapan saja (selalu sesuai untuk semua zaman; fleksibel), dan untuk dimana saja. Kembali kepada apa kata teman diskusi saya di atas tadi, kemudahan merusak islam dari dalam, yaitu; umatnya. Tidak hanya menjadi senjata bagi mereka yang dianggap musuh islam, tetapi juga oleh kepentingan – kepentingan egois umat islam itu sendiri. Yang mungkin, menurut mereka, bertujuan untuk menghadirkan kebaikan yang besar, kejayaan bagi agama dan umatnya. Akan tetapi, kelalaian, dikarenakan kurangnya wawasan akibat ‘kurang gaul’ atau ketidakluwesan berkondisi dengan lingkungan dan zaman, menghasilkan kebijakan yang menyebabkan lebih banyak kerusakan dalam mewujudkan tujuannya. Mari kita nilai bersama; akankah baik sebuah tujuan untuk kebaikan yang ditempuh dengan cara yang mengakibatkan kerusakan? Hanya Allah yang mampu berbuat seperti itu,… emangnya siapa kita??? Hanya Allah yang berhak menilai dan menentukan siapa digolongan mana. Sedang kita baru mengetahui diri sendiri tidak lebih dari 2% -nya saja. Apalagi soal soleh tidaknya seseorang, itu hak Allah! Jangan sampai jadi fir’aun! Wallaahu ‘alam bisshawab. Duri, 29-09-05 - Rachmad Ramdhani |