 | Navigation |  | | | Navigate through our site | | |  | Sponsored Links |  | | | Some words from our sponsors | |  | Our Networks |  | | | Our sister websites | |  | Welcome, Unregistered. |  | | | Member Panel | | | | | Politics Diskusi seputar politik dan permasalahannya |  27 January 2008, 03:04 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | soeharto tutup usia telah meninggal dunia dgn tenang jend besar h moch soeharto. minggu,270108 pada pukul 13.10. tak lupa segenap kluarga meminta maap pada seluruh rakyat indonesia. maapin ye.....maapin!!!!  |  27 January 2008, 03:10 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | pantesan dari kmaren mata kiri aku tu kedut2 gitu,eee trnyata mbah harto meninggal,ya ....emang sudah tua dan lagi beliau tuch ga bisa menghentikan kebiasaannya minta REMOT KONTROL.........  |  27 January 2008, 03:14 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | LINKIN PARK jadi soundtrack pas mbak tutut ngomong di konfrensi pers, klo ga salah yg what i've done waaaaah pas bgt lagunya....  |  27 January 2008, 05:02 PM |  | Senior Member | | Join Date: August 2007 Location: (sulut) Indonesia Posts: 5,328 Rep Power: 7 | | Quote: Originally Posted by olynugroho pantesan dari kmaren mata kiri aku tu kedut2 gitu,eee trnyata mbah harto meninggal,ya ....emang sudah tua dan lagi beliau tuch ga bisa menghentikan kebiasaannya minta REMOT KONTROL.........  | suster emot k**** ha ha ha Ancen Jery kurang ajar... __________________ maaf atas kesalahan yg lalu |  28 January 2008, 10:02 AM |  | Senior Member | | Join Date: May 2007 Location: hk Posts: 1,049 Rep Power: 3 | | turut berduka cita atas wafatnya mantan president RI bapak soeharto semoga amal ibadah serta perbuatannya di hitung adil oleh yg kuasa....amien... memang banyak konflik mengenai pak harto karena karupsinya yg besar2an tapi mesti kita akui juga ,Soeharto steered the nation through an economic boom,meski billions of dollar ended up in the hands of friends and relatives.....any how kita maafin aja deh orang yg memaafkan dosa orang lain pahalanya gedre lohhhh...  |  28 January 2008, 10:20 AM |  | Senior Member | | Join Date: April 2007 Location: jakarta Posts: 6,924 Rep Power: 8 | | Quote: Originally Posted by olynugroho telah meninggal dunia dgn tenang jend besar h moch soeharto. minggu,270108 pada pukul 13.10. tak lupa segenap kluarga meminta maap pada seluruh rakyat indonesia. maapin ye.....maapin!!!!  | tenang karena obat tidur ya......???? kalau gak pake obat tidur, gimana ya???? BTW, TURUT BERDUKA CITA Bagaimanapun juga beliau tetap berjasa terhadap negri ini, berjasa memulai pembangunan, dan yang positif2 lainnya, juga berjasa menumbuhkan budaya korupsi, main hakim sendiri, intimidasi, dll ........ yang sudah cukup kuat mengakar (32 tahun rek....) sehingga sulit dan butuh waktu lama untuk mengubah budaya negatif ini, perlu mencuci otak satu atau dua generasi.....susah kan??? __________________ BE YOURSELF DON'T WORRY....... BE HAPPY!!!!! |  29 January 2008, 01:23 PM | | Senior Member | | Join Date: July 2007 Location: kutai "kaltim" Posts: 1,291 Rep Power: 3 | | banyak yg bilang seribu kebaikan akan kalah dengan satu keburukan... __________________ Matahariku mssu sllu |  29 January 2008, 09:38 PM |  | Senior Member | | Join Date: May 2006 Posts: 710 Rep Power: 3 | | (^_^) Turut berbela sungkawa urusan dunia tinggalin aja didunia urusan disono nanti ya urus di sono. (^_^) |  29 January 2008, 10:36 PM | | Senior Member | | Join Date: March 2006 Location: kalsel Posts: 9,493 Rep Power: 12 | | angka 6 dan 8 itu bagus , bayang bayang pak harto |  30 January 2008, 09:58 AM |  | Senior Member | | Join Date: May 2007 Location: Tanah Tuhan Posts: 3,977 Rep Power: 5 | | Quote: Originally Posted by nonasurabaya angka 6 dan 8 itu bagus , bayang bayang pak harto |  bukannya semua angkan itu bagus BTW... TURUT BERDUKA CITA... semoga dilapangkan jalannya dan semoga diberikan kemudahan .AMINNNN  __________________ "Tetaplah seperti itu" "Meskipun ku jauh" "Namun kau begitu dekat" |  30 January 2008, 01:12 PM |  | Senior Member | | Join Date: August 2007 Posts: 2,253 Rep Power: 4 | | aminnnnnnnnnn.......... __________________ LOVE U ALL |  31 January 2008, 03:54 PM |  | Senior Member | | Join Date: August 2007 Location: (sulut) Indonesia Posts: 5,328 Rep Power: 7 | | kok dikit ya, yg berbela sungkawa. pdhal klo aku lihat di tv ada ratusan/ribuan. __________________ maaf atas kesalahan yg lalu |  31 January 2008, 04:27 PM |  | Senior Member | | Join Date: April 2005 Location: Oil City Posts: 3,792 Rep Power: 7 | | Soekarno - Sejarah yang tak memihak Posted by Iman Brotoseno under: SEJARAH; SOEKARNO . Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno. Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal ) Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata , " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO " Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie. Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya. Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir. Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 ) dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 ) Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad " ( Kompas 13 Januari 2008 ) Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif. Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata ( * WS Rendra ) __________________ ad yg mau n pengen liat Photonya liviya ngga..? |  31 January 2008, 08:17 PM |  | Senior Member | | Join Date: October 2007 Location: Snow Islands Posts: 2,877 Rep Power: 3 | | Turut berbela sungkawa juga ya........ cuma Love sedih banget g bisa lihat prosesi pemakamannya Pak Harto.... padahal deket banget ma tempat tinggal Love.... semoga amal beliau diterima di sisi Tuhan..... Miss U Pak Harto........ __________________ My Luvly Ndy...^_^ |  31 January 2008, 11:11 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | Quote: Originally Posted by Andree_22 Posted by Iman Brotoseno under: SEJARAH; SOEKARNO . Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno. Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal ) Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata , " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO " Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie. Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya. Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir. Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 ) dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 ) Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad " ( Kompas 13 Januari 2008 ) Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif. Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata ( * WS Rendra ) | thx'z ndree,saya juga salah seorang pengagum Bung Karno,saya yakin kehidupan saya akan lebih baik dari skarang klo Bung Karno masih menjabat jadi Presiden. smoga Bung karno mendapat tempat yg indah di sisiNya.............amin. |  31 January 2008, 11:24 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | suharto memang pernah berjasa untuk negri ini,tapi bukankah itu memang tugasnya?tugas dari jabatan yg ia pegang.Negara ini kan tidak pernah memaksa dia untuk jadi presiden,malah dia sendiri yg memaksa untuk jadi presiden. Dan pasti cara dia untuk mendapatkan posisi itu adalah cara yg kotor, pendekatan dengan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang,berbohong,dan menipu masyarakat yg semuanya merupakan ciri dari sebuah faham yang sangat fasis yg tentunya hanya dimiliki oleh komunis. |  01 February 2008, 08:54 AM |  | Senior Member | | Join Date: August 2007 Location: (sulut) Indonesia Posts: 5,328 Rep Power: 7 | | Quote: Originally Posted by olynugroho suharto memang pernah berjasa untuk negri ini,tapi bukankah itu memang tugasnya?tugas dari jabatan yg ia pegang.Negara ini kan tidak pernah memaksa dia untuk jadi presiden,malah dia sendiri yg memaksa untuk jadi presiden. Dan pasti cara dia untuk mendapatkan posisi itu adalah cara yg kotor, pendekatan dengan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang,berbohong,dan menipu masyarakat yg semuanya merupakan ciri dari sebuah faham yang sangat fasis yg tentunya hanya dimiliki oleh komunis. | lyn thread mu ini bukan mbahas Politik kan? andree_22 ae mbok ladeni. tularan komet koen engko.... __________________ maaf atas kesalahan yg lalu |  01 February 2008, 12:51 PM |  | Senior Member | | Join Date: April 2007 Location: jakarta Posts: 6,924 Rep Power: 8 | | Quote: Originally Posted by Andree_22 Posted by Iman Brotoseno under: SEJARAH; SOEKARNO . Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno. Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal ) Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata , " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO " Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie. Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya. Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir. Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 ) dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 ) Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad " ( Kompas 13 Januari 2008 ) Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif. Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata ( * WS Rendra ) | Gw juga sedih banget dengan diskriminasi itu, tapi...ya itulah hasil dari indoktrinasi yg disutradarai oleh Soeharto, berhasil banget dia sebagai seorang sutradara dan perekayasa...... Only God know where he is now.......... __________________ BE YOURSELF DON'T WORRY....... BE HAPPY!!!!! |  01 February 2008, 05:59 PM |  | Senior Member | | Join Date: October 2007 Location: Snow Islands Posts: 2,877 Rep Power: 3 | | Quote: Originally Posted by toeng_ho Gw juga sedih banget dengan diskriminasi itu, tapi...ya itulah hasil dari indoktrinasi yg disutradarai oleh Soeharto, berhasil banget dia sebagai seorang sutradara dan perekayasa...... Only God know where he is now.......... | Dia sekarang di Astana Giribangun Ho....... __________________ My Luvly Ndy...^_^ |  01 February 2008, 10:26 PM |  | Senior Member | | Join Date: September 2006 Location: white water Posts: 1,630 Rep Power: 4 | | Quote: Originally Posted by toeng_ho | | |