 | Navigation |  | | | Navigate through our site | | |  | Sponsored Links |  | | | Some words from our sponsors | |  | Our Networks |  | | | Our sister websites | |  | Welcome, Unregistered. |  | | | Member Panel | | | | | Televisi Diskusi seputar tayangan-tayangan di televisi |  |  04 March 2008, 06:04 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | ^.^ Menggugat Tanggung Jawab TV Menggugat Tanggung Jawab TV 03 Oct 2007 Sungguh menarik untuk menyimak keprihatinan KH Salahuddin Wahid, sebagaimana yang dilansir Republika (Jumat, 21/9/07). Di situ Gus Solah menyatakan bahwa motif bisnis tayangan Ramadhan hanya merusak puasa. Hura-hura dan kuis berbau judi masih mendominasi dan belum mengarah pada upaya meningkatkan nilai puasa. Umumnya, televisi masih melihat Ramadhan lebih sebagai peluang bisnis. Kesadaran kritis Gus Solah tersebut, patut menjadi perhatian bagi khalayak pemirsa Indonesia, khususnya kalangan opinion leader (pemuka pendapat). Diduga kuat, masyarakat pemirsa televisi saat ini, umumnya sedang terkena sihir informasi media siaran TV yang begitu menggoda dan menghibur, tetapi belum tentu mendidik dan mencerahkan. Bahkan, sangat boleh jadi, TV dengan kemasan program acaranya saat ini, telah terposisikan sebagai 'agama baru' masyarakat Indonesia. Di antara alasan menjadikan TV sebagai agama baru adalah karena TV telah cenderung mengambil alih sejumlah ciri dan fungsi sebuah agama berikut. Pertama, TV telah menjadi sesuatu yang sangat dipentingkan dan diutamakan. Nilai pentingnya sebuah TV dalam rumah tangga telah menjadi kebutuhan dasar secara berjamaah, sebagaiman layaknya sebuah agama. Di samping itu, TV tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, tapi telah menjadi simbol prestise, sekaligus aksesori utama. Kedua, sebagai 'agama baru', TV dengan program acaranya juga sudah dapat mengatur jadwal seseorang menjadi kegiatan yang bersifat rutin dalam sehari semalam, sebagaimana layaknya kewajiban beribadah secara rutin dari sebuah ajaran agama. Tengoklah, bagaimana para pemirsa mengikuti siaran langsung sepak bola dunia pada dini hari. Mereka rela begadang semalaman dan pada akhirnya kerap meninggalkan kewajiban agama berupa shalat shubuh. Dengan kata lain, saat itu, mereka telah melakukan 'perpindahan' agama. Ketiga, jika agama mempunyai penyeru yang oleh pengikutnya dijadikan idola dan panutan, maka saat ini pun, TV sudah memiliki ciri tersebut. TV telah melahirkan sejumlah 'nabi' baru, berikut ajarannya, yang kemudian dengan setia diikuti secara fanatik oleh sejumlah pengikutnya. Umumnya, pengikut ajaran 'agama baru' dari TV tersebut, telah menganut agama formal sesuai yang tercantum di KTP secara turun-temurun. Dengan demikian, sangat boleh jadi mereka telah mempraktikkan secara berbaur kedua ajaran tersebut. Namun, saat jadwal keduanya bertabrakan dan harus memilih salah satunya, maka yang paling sering memenangkannya adalah 'ajaran agama' yang diperkenalkan oleh TV. Tidak mendidik Simaklah, bagaimana wajah sinetron kita yang tak bosan-bosannya memilih setting rumah mewah, dengan hidup gaya aktor dan artis yang glamour >  , kemudian memainkan peran yang kental diwarnai konflik perselingkuhan, perebutan harta, persaingan jabatan dalam bisnis eksekutif, dan sebagainya. Akal sehat dalam memandang gerak kehidupan yang seharusnya lebih dominan bernuansa kerja keras, disertai do'a dengan tata cara beragama secara benar, nyaris tak kelihatan dalam sinetron kita. Jika ditampilkan, maka itu pun dikemas dengan cara yang amat sederhana. Hidup berdasarkan agama, digambarkan begitu simpel atau simplistik. Sebagai gambaran singkat, dari tahun 2006 terdapat sekitar 180 judul sinetron dengan 3.641 episode dan 4.020 jam tayang. Kesemuanya, hanya menggambarkan tema di seputar seks, kekerasan dan mistik, serta glamournya kehidupan elite kota. :toe: Khusus untuk tahun ini, sejak bulan Agustus lalu, frekuensi penayangan sinetron remaja dominan mewarnai stasiun TV besar. Di pekan terakhir Agustus misalnya, jumlah episode sinetron remaja mencapai kurang lebih 91 episode di sejumlah stasiun TV dengan masa tayang sekitar 123 jam dalam sepekan. Keluhan dari berbagai lapisan masyarakat sudah menunjukkan keprihatinan yang mendalam dan mengkhawatirkan. Hal-hal yang terkait dengan kekerasan, seks, mistik, dan moral rendah, digambarkan dalam format yang tidak semestinya ada dalam tayangan yang ditujukan untuk remaja. Adegan pertengkaran, intrik, pacaran sebagai hal biasa dan wajar, pelecehan guru, dan atribut sekolah, dengan tampilan pakaian sekolah secara semi transparan dan minim, cukup banyak dan sering ditampilkan untuk segmen remaja. Keprihatinan kita semakin serius, karena saat jam penayangannya, juga serta-merta dapat ditonton oleh anak usia SD, karena jam tayang yang acak, serta selisih waktu antara Indonesia bagian barat dan timur Selama ini, kehidupan Jakarta dengan segala problematikanya, telah mendominasi segmen dan setting acara TV, khususnya TV swasta. Dampak dari pola setting dan segmen acara yang sangat Jakarta sentris tersebut, akhirnya berakibat pada imitasi tingkah laku khalayak pemirsa yang berpatron pada pola dan gaya hidup ala Jakarta. Sementara itu, akar persoalan khalayak pemirsa pada umumnya, justru lebih bernuansa lokal. Akibatnya, banyak terjadi alienasi dalam menyelesaikan persoalan kehidupan di masyarakat pedesaan. Kesemua buah permasalahan tersebut, tidaklah terlepas dari sistem dan struktur penyiaran yang sepenuhnya belum berubah dalam memperlakukan ruang publik, sesuai tuntutan reformasi, guna memenuhi hak atas aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, secara perundang-undangan telah dengan jelas diatur upaya untuk mengantisipasi berbagai permasalahan, yang selama ini diduga kuat sebagai kondisi dan faktor yang tidak lagi layak untuk dipertahankan dalam pertumbuhan peran dunia penyiaran Indonesia. Di antara aspek yang diatur tersebut, adalah keharusan bagi segenap lembaga penyiaran swasta (Khususnya televisi) untuk segera (Desember 2007) menyesuaikan diri (setelah diberi waktu selama lima tahun) dalam sistem siaran yang berjaringan Namun, tuntutan undang-undang tersebut yang kemudian diperkuat oleh desakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) agar segenap lembaga penyiaran TV swasta segera mengalokasikan program siaran yang bernuansa lokal, berikut struktur penyiaran yang berjaringan, ternyata tak direspons secara positif oleh segenap lembaga penyiaran swasta. Pemilik dan sebagian pengelola TV swasta merasa keberatan, dengan alasan takut rugi secara finansial... :awas:. Berjaringan, berarti harus berinvestasi ke daerah, sementara dalam hitungannya, modal belum tentu bisa kembali. Meskipun telah diketahui bersama, bahwa selama ini sebagian dari mereka telah maraup keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Pertanyaannya adalah, apakah keuntungan ekonomi yang mereka peroleh itu, telah disadari sebagai hasil dari pemanfaatan frekuensi yang pemilik azalinya adalah rakyat yang sebagaian besar ada di daerah luar Jakarta? Mereka sebagai pengguna yang kemudian menguasai frekuensi yang terbatas itu, sesungguhnya hanyalah diamanati lewat lembaga negara (KPI dan pemerintah) untuk mengunakannya sebaik dan sebenar mungkin. Bahwa sampai detik ini, cara menggunakan amanat frekuensi tersebut justru cuma menghasilkan sampah informasi, maka di situlah persoalannya. (Penulis Aswar Hasan adalah alumnus The International Institute of Human Rights Strasbourg Perancis, Ketua KPID Sulawesi Selatan) ****************************** 1. Dampak Isi Pesan Media Massa TAMPILKAN ARTIKEL 3. Pengaruh Televisi pada Perubahan Perilaku TAMPILKAN ARTIKEL 5. Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis) TAMPILKAN ARTIKEL 6. Jangan Jadikan sebagai Kekuatan Dahsyat yang Tak Bernurani TAMPILKAN ARTIKEL 10. Peran Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan TAMPILKAN ARTIKEL Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Last edited by sibin; 06 March 2008 at 07:56 PM. |  04 March 2008, 09:33 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | TV DAN INTERNET BERI ANDIL MELEDAKNYA ANGKA SEKS PRANIKAH *** Pengaruh tayangan televisi yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi, maraknya penjualan keping disk khusus dewasa serta kebebasan membuka situs pornografi di internet diduga semakin `meledakkan` angka seks pra nikah yang dilakukan para remaja di Jawa Barat. Demikianlah benang merah Diskusi Panel "Pengembangan Kesadaran Pemuda Terhadap Faktor Destruktif melalui Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi" yang digelar di Islamic Centre Cirebon, belum lama ini. Tampil sebagai pembicara Ketua Divisi Pemuda Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) Arif Srisardjono S Sos, sosiolog dari STAIN Cirebon Prof Dr Abdullah Ali MA, dan Shakina Mirfa Nasution SE MApp.Fin juga dari ASA. . Menurut Arif Srisardjono, angka seks pra nikah yang menghinggapi remaja di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 40 persen, karena hasil survei tahun 2002 menunjukkan 40 persen remaja berusia 15-24 tahun telah mempraktekan seks pranikah. :wataw: :wataw: Demikian juga survei Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek didapatkan hasil lebih dari 80 persen anak-anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi dari sejumlah media termasuk internet. "Jika saja ada kembali survei tahun 2007 ini maka angka seks pra nikah mungkin lebih besar lagi," katanya. Ia mendesak agar UU Pornografi yang memberikan perlindungan kepada anak dan remaja segera diundangkan dan UU tersebut harus mengakomodir klausul khusus tentang perlindungan anak dari pemanfaatan dalam produksi pornografi. Sadari bahaya pornografi: Sementara Prof Dr Abdullah Ali MA mengatakan, semua pihak seharusnya menyadari terhadap bahaya pornografi dan pornoaksi dalam kehidupan sosial dan perkembangan jiwa anak-anak sehingga perlu perangkat proteksi baik berupa udang-undang ataupun teknologi maju untuk membendung hal itu. "Di China sangat keras proteksi untuk itu dimana semua warung internet diwajibkan memblok situs-situs pornografi, tetapi di sini tidak ada pengawasan itu," katanya. Ia mengungkapkan, masyarakat harusnya menyadari bahwa serangan pronografi dan pornoaksi itu telah muncul di berbagai tempat sehingga selain mengawasi segala aktifitas anak-anaknya, juga harus semakin mempertebal keimanan mereka. Melebihi kokain: Menurut Shakina, kerusakan otak yang diakibatkan pornografi yang dilihat, didengar dan dirasakan akan melebihi kokain karena pornografi akan mengaktifan jaringan seks yang diciptakan Tuhan untuk orang yang sudah menikah. "Tuhan menciptakan enam jenis hormon yang aktif pada hubungan pasangan yang sudah menikah. Kini hormon tersebut diaktifkan pada anak dan tanpa pasangan," katanya. :hmmm: Ia menjelaskan, dampak psiko-sosialnya remaja akibat pornograsi mulai dari adiksi (ketagihan) sampai ekskalasi perilaku seksual menyimpang seperti lesbian, incest, pedophilia, dan desensifitasi atau penurunan sensivitas seks. sumber: BKKBN - Rubrik |  04 March 2008, 09:33 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Taufik Ismail: Film -Sinetron 'Ekspresi Syahwat' yang Mengubah Perilaku Keberadaan film dan sinetron Indonesia yang muncul sejalan dengan proses reformasi merupakan salah satu [size=15pt] komponen gerakan syahwat merdeka[/size], sebab akhir-akhir terdapat kecenderungan perubahan budaya prilaku masyarakat yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Perubahan perilaku itu ada enam antara lain, perilaku permisif (serba boleh), perilaku Adiktif (serba kecanduan), kemudian sifat brutalistik (serba kekerasan), selanjutnya transgresiv (serba melanggar aturan), hedonistik (mau serba enak, mau foya-foya), serta materialistik (serba benda/uang semua). "Pembuatan film dan sinetron di televisi yang merupakan ekspersi syahwat yang itu ditonton tidak tanggung-tanggung oleh 170 juta pemirsa, " ujar Budayawan Taufik Ismail dalam sidang pleno pengujian UU No.8 Tahun 1992 tentang perfilman, di Gedung Mahkamah Kostitusi, Jakarta, Kamis(24/1). Ia menjelaskan, selain film dan sinetron, komponen lain yang dibawa oleh kelompok permisif dan adiktif ini masuk ke dalam tanah air yaitu, perilaku seks bebas, penerbit Majalah dan tabloid mesum bebas tanpa SIUPP menjual wajah dan kulit perempuan muda, 4, 2 juta situs porno dunia dan 100 ribu situs porno Indonesia dengan berbagai imaji seks, VCD porno yang menjadikan Indonesia surga besar dari pornografi yang paling murah didunia, peredaran komik cabul yang sasarannya anak-anak sekolah, produsen dan pengedar narkoba yang mencengkram 3 juta anak-anak muda, pabrik dan pengguna alkohol yang bisa merdeka sampai ke desa-desa, serta produsen nikotin. :toe: "Kenapa alkohol, narkoba, dan nikotin termasuk dalam kontributor arus ini, karena sifat adiktifnya kecenderungan fanatis, itu interaksi dengan seks, " jelasnya. Ia menilai, perubahan politik yang membawa berkah ini melalui reformasi, akan tetapi disisi lain menimbulkan laknat yang tidak sedikit. "Rasa malu bangsa ini yang sudah terkikis, dengan mereka yang sudah mabuk karena reformasi ini. Apakah bisa berbicara dengan kaidah-kaidah agama atau kaidah moral, tidak lagi, karena akan ditertawakan, " imbuhnya. Senada dengan itu, Ketua MUI H. Amidhan menyatakan, tanda-tanda mengaburkan suatu kebenaran yang bersumber pada nilai-nilai yang berlaku dalam agama dan masyarakat saat ini sudah terjadi pada beberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Bahkan, lanjutnya, kelompok tersebut memandang pemikiran yang benar itu, sebagai sesuatu yang dokmatis, pragmatis, fundamentalis dan sebagainya. Ia menambahkan, keleluasaan dan kebebasan untuk berekspresi, berimprovisasi dan berkarya sebenarnya tidak ada batasan bagi semua pihak, namun harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Islam pun mengajarkannya. " Lama sebelum diwacanakan tentang universalitas dari HAM itu, dalam Al-Quran itu banyak sekali konteksnya terhadap HAM dan kebebaan berekspresi, misalnya yang sering kita ucapkan kalimat laa ikraha fiddin, atau lakuum dinnukum waaliyadin, " imbuhnya. Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional Deddy Mizwar mengatakan, masalah industri perfilman tidak hanya terkait dengan sensor saja, namun bagaimana meningkatkan kreativitas untuk memajukan industri perfilman Indonesia. Ia menilai, meski lembaga sensor film dirasakan belum menjalan tugasnya secara optimal, karena itu perlu melakukan perbaikan untuk kedepannya. "Keberadaan LSF perlu disempurnakan, " ujar Pemeran Utama Ustadz Husein di Sinetron Lorong Waktu ini. (novel) Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Last edited by sibin; 06 March 2008 at 07:57 PM. |  04 March 2008, 09:34 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Meluasnya Kejahatan Sosial di TV Beberapa waktu lalu, Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi menyoroti televisi yang dinilai berlebihan dalam menayangkan gambar kasus video porno anggota DPR Yahya Zaini (YZ) dengan penyanyi dangdut Maria Eva (ME). Di mata Hasyim, penayangan gambar tanpa pakaian terus-menerus merupakan kejahatan publisistik dan kekejaman keji terhadap keluarga yang bersangkutan serta mendidik sangat buruk pada anak-anak yang menontonnya di seluruh Indonesia. Tindakan YZ memang merupakan kesalahan terbatas, sedangkan penayangan berlebihan itu merupakan kejahatan sosial yang meluas. Dalam beberapa tayangan infotainment, televisi menayangkan adegan tersebut berulang-ulang. Bisa dipahami kalau televisi ingin menyajikan realitas sesungguhnya dari apa yang terjadi. Intinya, televisi ingin objektif dalam mengungkapkan sebuah fakta yang terjadi meskipun kenyataannya justru sebaliknya. Kebenaran dan Fiksi Namun demikian, dan ini diakui oleh Louis Alvin Day dalam bukunya Ethics in media Communications (2003), sungguh tidak mudah bagi televisi untuk membedakan antara kebenaran (baca: fakta) dan fiksi dalam tayangannya. Dalam kenyatannya, televisi di Indonesia mencampuradukkan antara fakta dan fiksi tersebut. Pernyataan yang dibacakan oleh narator atau pembawa acara seringkali “menuduh” pihak tertentu dan mengarahkan pembaca untuk setuju dan tidak setuju terhadap realitas yang disajikannya. Meskipun, mereka merasa hanya sekadar memberikan ilustrasi dari apa yang disajikan. Kata-kata seperti “sungguh tragis”, “sayangnya”, “tidak disangka” dan sebagainya menjadi contoh kongkrit keberpihakan tersebut. Jika kita melihat lebih jauh, karena orang-orang yang terlibat dalam acara infotainment itu tidak banyak yang berlatar belakang jurnalistik. Dampaknya, mereka memproduksi acara yang penting penonton. Yang berlatar belakng jurnalistik saja belum tentu bisa mempengaruhi bahwa berita seharusnya menampilkan fakta-fakta detail yang disajikan tanpa bermaksud menggiring pembacanya. Dalam hal ini kekuasaan produser sedemikian kuatnya. Dalam kasus poligami yang dilakukan Aa Gym media massa telah berhasil memojokkan kiai itu dan mempengaruhi opini masyarakat untuk memprotesnya. Tidak salah memang, tetapi haruskah sepihak dalam memberitakan? Ini lepas dari setuju dan tidak setujunya terhadap poligami. Maka, media tidak akan merasa bersalah dalam menayangkan “adegan bugil” YZ-ME yang diulang-ulang dalam acara infotainment di televisi kita akhir-akhir ini. Satu sebabnya, antara fakta dan fiksi sudah dicampuradukkan. Fakta tanpa fiksi memang kering, tetapi fiksi yang dicampuradukan dengan fakta menjadi kejahatan sosial. Sebab audience sangat sulit membedakan mana fakta dan mana fiksi. Objektivitas Membicarakan antara fakta dan fiksi kita perlu juga mempertanyakan, bagaimana dengan objektivitas tayangan televisi yang sudah seperti itu? Dalam beberrapa kasus, televisi itu jelas telah melanggar objektivitas tayangan. Infotainmet bukan tayangan film atau sinetron yang tidak perlu berpegang teguh pada objektivitas. Westerstahl (McQuail, 2000), pernah meyodorkan bahwa yang dinamakan objektif setidaknya mengandung faktualitas dan imparsialitas. Faktualitas berarti kebenaran yang di dalamnya memuat akurasi (tepat dan cermat), dan mengkaitkan sesuatu yang relevan untuk diberitakan (relevansi). Sementara itu, imparsialitas mensyaratkan adanya keseimbangan (balance) dan kenetralan dalam mengungkap sesuatu. Dengan demikian, informasi yang objektif selalu mengandung kejujuran, kecukupan data, benar dan memisahkan diri dari fiksi dan opini. Ia juga perlu untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang hanya mengejar sensasional semata. Jika kita melihat tayangan infotainment di televisi, dengan memakai kriteria objektif yang diajukan Westerstahl di atas, maka kita akan mengatakan tiadanya objektivitas atas sesuatu yang diberitakan. Tentu saja, objektivitas di sini tak hanya sekadar ada fakta saja. Fakta telanjang bisa jadi justru berdampak buruk atas diri pemirsanya. Memang, setiap kejahatan dan tindak asusila perlu diungkap agar dampaknya lebih baik di masa yang akan datang. Tetapi, mengungkap sesuatu atas dasar ikatan emosional juga bukan tindakan yang bijaksana. Ini bukan masalah membela salah satu pihak, tetapi, mencoba mendudukkan bagaimana media massa kita perlu bersikap proporsional dalam memberitakan suatu kejadian. Akibat pemberitaan yang tidak proporsional itu pula, ketidakadilan di masyarakat terjadi. Misalnya, mengapa masyarakat sangat memprotes Aa Gym yang nikah secara sah, disetujui istrinya dan memakai dananya sendiri sementara kasus yang menimpa YZ-ME yang dianggap “selingkuh”, tanpa persetujuan istrinya, memakai uang rakyat dibiarkan begitu rupa? Bukankah ini tindakan yang tidak adil dari masyarakat atas tayangan yang selama ini diberitakan? Bagaimana enerji kita begitu terkuras hanya mengurusi masalah poligami sementara korupsi yang menimpa anggota DPR dan jajaran pemerintah sering luput dari pengamatan kita? Social Punishment Mengapa tayangan infotainment televisi selama ini mengkhawatirkan? Sebab, televisi itu diciptakan untuk menghibur saja. Masyarakat menikmati acara televisi kebanyakan untuk mencari hiburan dan bukan yang lainnya. Mereka tidak begitu peduli apakah yang disajikan televisi itu fakta atau fakta yang “dibumbui” fiksi. Itulah realitas hiburan televisi kita. Bahkan Neil Postman pernah menyindir “televisi menghibur diri sampai mati”. Memprotes televisi bukan berarti benci pada tayangannya. Namun demikian, tanpa pengelolaan yang bijak, televisi justru akan semakin memperburuk keadaan masyarakat. Memang memprotes televisi yang saat ini sudah menjadi “kebutuhan dasar” masyarakat tidak pada tempatnya, tetapi membiarkannya begitu saja juga bukan tindakan yang bijak. Memprotes pengelola televisi tak ubahnya seperti informasi yang masuk ke telinga kanan, keluar di telinga kiri. Sementara, memperotes pemerintah agar bertindak tegas sering dituduh melanggar kebebasan pers. Pemerintah sering berlindung di balik kebebasan pers untuk mengelak dari tuduhan tak peduli dengan keluhan masyarakat itu. Lalu apa tindakan yang harus dilakukan karena televisi kenyataannya sudah seperti itu? Tindakan yang lebih konkrit adalah melakukan social punishment (hukuman sosial). Hukuman sosial ini memang menekankan pada kekuatan individu dalam mewujudkannya. Artinya, tanpa inisiatif pribadi, hukuman sosial itu tidak ada gunanya. Misalnya, kalau kita tidak suka dengan acara infotainment tidak perlu menontonnya. Atau, matikan saja televisi. Melakukan hukuman sosial juga perlu kejujuran. Misalnya, bukan perilaku jujur jika kita sering memprotes acara itu, tetapi justru kita sendiri menontonnya. Ini artinya, kita tidak jujur. :wataw: Cara seperti itu juga untuk mendidik masyarakat untuk bersikap dewasa, bijak, konsisten dan kritis terhadap acara-acara televisi. Artinya, jika kita tidak suka terhadap suatu acara, kita tak perlu menontonnya. Atau sudah sanggupkan kita melakukan boikot pada acara-acara televisi? Sumber: Pernah disampaikan dalam acara bedah buku Pengantar Komunikasi Massa (Rajawali Pers, 2007), di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang, 29 Nopember 2007 Nurudin's Site - Meluasnya Kejahatan Sosial di TV |  04 March 2008, 10:55 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Pengaruh Televisi pada Perubahan Perilaku oleh : Arief S. Sadiman *) Sebagai makhluk sosial, perilaku kita banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri kita (organismic forces) maupun dari luar diri kita (environmental forces). Kita berfikir, merasa, bersikap dan bertindak karena adanya rangsangan dari luar diri kita. Perilaku kita ditentukan oleh otak kita. Dengan 10 trilyun sel syarafnya, otak membantu kita menentukan apa yang kita pikirkan, rasakan, pelajari dan lakukan. Perilaku apa dan bagaimana yang akan kita tampilkan ditentukan oleh cortex, lapisan teratas dari otak kita. Informasi dari luar masuk ke dalam diri kita lewat jalur inderawi (sensory pathways). Lewat mata, telinga, hidung, kulit dan lidah informasi tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita dan di dalam diri kita disampaikan. Selanjutnya cortex memproses informasi inderawi tersebut, dengan pertimbangan-pertimbangan kemampuan, logika dan moral, mencek file memory yang ada apa yang harus dilakukan, pikirkan, atau rasakan dalam situasi-situasi tertentu. Apabila cortex telah memutuskan lalu memerintahkan lewat jalur motorik (motor pathways) ke otot-otot tubuh apa-apa yang harus dilakukan. Sejak lahir hingga mati seseorang secara langsung atau tidak akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tingkah laku orang lain atau benda serta peristiwa di sekitarnya. Hanya lewat interaksi inilah seseorang (anak) akan menjadi dewasa dan mendapatkan kepribadiannya. Tanpa ini dia tak lebih dari seekor binatang. (Brown, 1969) Sebagai sebuah lembaga sosial keluarga adalah lingkungan yang kuat sekali pengaruhnya (baik untuk hal-hal yang baik maupun yang jelek) dalam mengembangkan sifat-sifat dasar anak. Peranan keluarga penting sekali dalam mengubah seorang individu menjadi manusia, dari original nature ke human nature. Dalam keluarga kita dapati berbagai aktor/pelaku yang potensial untuk menjadi tokoh identifikasi diri seorang anak. Lewat identifikasi diri inilah terjadi pula internalisasi nilai-nilai dalam diri seseorang anak. Perilaku bukanlah karakteristik yang kekal sifatnya tetapi dapat berubah, diubah dan berkembang sebagai hasil dari interkasi individu dengan lingkungannya. Perubahan bisa bersifat positif dan negatif. Sifat perubahan yang terjadi ditentukan oleh diri individu yang bersangkutan dan lingkungannya. Proses perubahan perilaku bukanlah proses yang sekali jadi tetapi memerlukan waktu yang relatif sifatnya. Perilaku bukan pula bawaan atau turunan tetapi lebih merupakan produk belajar, yang mencakup kawasan-kawasan kognitif, afektif dan psikomotor. Frekuensi dan intensitas informasi yang kita peroleh akan menentukan apakah perilaku kita akan terpengaruh oleh informasi tersebut (Thorndike, Law of Repetition). Informasi yang sama, senada atau serupa yang masuk secara berulang-ulang ke dalam diri seseorang akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan apabila informasi tersebut hanya diterima sekali. Seringkali tanpa disadari informasi tersebut terinternalisasi ke dalam diri kita dan selanjutnya terealisasikan dalam bentuk perilaku tertentu. Bahkan sesuatu informasi yang salah karena berulang-ulang disampaikan tanpa disadari akan dianggap sebagai suatu kebenaran. Pola tingkah laku kita peroleh lewat pengalaman langsung atau lewat pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Kegiatan, tindakan dan tingkah laku sedikit banyak ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensi yang kita bayangkan akan datang, baik positif maupun negatif. Apa dan bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan akan menentukan apakah perbuatan tersebut akan diulang oleh yang bersangkutan atau tidak. Perilaku atau tindakan yang mendatangkan efek yang positif dan menyenangkan cenderung untuk dilakukan kembali di masa mendatang. Sebaliknya, perilaku atau tindakan yang memberikan efek negatif dan tidak enak cenderung untuk tidak diulangi lagi. Pola tingkah laku kita juga kita peroleh dengan jalan mengamati tingkah laku orang lain dan melihat akibat-akibat dari tingkah laku tersebut, tanpa harus ada ganjaran maupun hukuman secara eksplisit. (Lazerson, 1975). Perbuatan/perilaku yang mendatangkan efek positif dan menyenangkan cenderung untuk ditiru. Sebaliknya, perilaku atau tindakan yang mendatangkan efek negatif cenderung untuk tidak ditiru. Perlu diingat bahwa apabila perilaku atau tindakan negatif yang seharusnya mendapatkan akibat negatif dan tidak menyenangkan tetapi kenyataannya tidak atau malah sebaliknya juga cenderung untuk ditiru. Namun bagaimanapun deras dan berulang-ulangnya informasi yang disampaikan kepada seseorang cenderung tidak akan banyak membawa pengaruh pada perilaku-nya apabila yang bersangkutan belum/tidak siap baik secara mental maupun fisik untuk menerima dan mencerna informasi tersebut. Televisi adalah media yang potensial sekali tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membentuk perilaku seseorang, baik ke arah positif maupun negatif, disengaja ataupun tidak. Sebagai media audio visual TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau, secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV, setelah 3 jam kemudian dan 65 % setelah 3 hari kemudian. (Dwyer) Semakin lama televisi semakin terasa sebagai bagian dari kehidupan keluarga kita. Dalam kelompok masyarakat tertentu televisi mutlak harus ada dan sulit membayangkan hidup tanpa televisi. Karena televisi, ritme dan kegiatan dalam hidup kita banyak diatur (suka atau tidak, sadar ataupun tidak) olehnya. Televisi adalah jendela dunia di rumah kita, yang tidak aman sama sekali. Anggota kelompok sosial yang kita sebut keluarga "bertam-bah" dengan hadirnya tokoh-tokoh lain dari luar rumah, luar kota, luar negeri bahkan luar angkasa. Pesan-pesan dan informasi baik yang bersifat hiburan maupun penerangan dan pendidikan makin deras membanjiri kita. Model perilaku dan tokoh identifikasi diri semakin banyak ditawarkan kepada kita dan keluarga kita. Totally unsecured electronic windows in most Asian countries ini seringkali "diam-diam" mengajari, memberi contoh model-model perilaku tertentu dan selanjutnya (sengaja ataupun tidak) mengajak anggota keluarga kita untuk menirunya. Televisi adalah media komunikasi, sedangkan komunikasi adalah suatu bisnis yang besar. Sebagai layaknya setiap bisnis, motivasi dan kebutuhannya adalah untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Cross, 1983) Namun perlu diingat bahwa televisi hanyalah sebagian dari sekian banyak faktor di luar diri individu yang akan berpengaruh pada perubahan perilakunya. Dibandingkan dengan faktor lain, televisi adalah the most seductive, the most pervasive, the most influential form of mass communication (Fred Allen, dalam Cross, 1983) |  04 March 2008, 10:56 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Sambungan Sebelumnya SAMBUNGAN SEBELUMNYA....... Telah banyak bukti dan penelitian yang dilakukan atas pengaruh televisi pada perilaku manusia, mulai dari tindakan-tindakan fisik yang sederhana hingga sikap, pandangan dan nilai serta norma yang lebih mendalam. - Pada waktu film Airport ditayangkan, PAM di Lafayette, Lousiana, melaporkan bahwa selama setengah jam terakhir tidak ada orang yang beranjak dari depan TV. Tetapi begitu sajian tersebut selesai 20.000 orang mengguyurkan sebanyak 80.000 galon air di kamar kecil pada waktu yang sama. Hal yang serupa pernah terjadi pula di tanah air kita. Pada waktu Mohammad Ali masih jaya, setiap kali ada pertandingan pasti jalan raya jadi sepi, kantor lumpuh. Begitu pula kemudian Mike Tyson. - Chu dan Schramm (1979) sudah sejak lama telah mengadakan studi metaanalisi dan melaporkan betapa televisi mempunyai contribusi yang besar dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar manusia, meningkatkan daya retensi siswa. - Bohari (1993) melaporkan betapa televisi dapat mengubah perilaku sebagian penduduk Tg. Karang (sekitar 90 km dari Kuala Lumpur) dari perokok berat menjadi berhenti merokok (32,4 %), bertahap selama 6 bulan berhenti merokok (51,4 %) dan sisanya berjanji akan mengurangi porsi rokoknya. - Rahim dan Basri (1993) juga melaporkan bahwa televisi telah membantu usaha rekayasa sosial di sebagian masyarakat Malaysia. Masyarakat pedesaan telah berubah sikap mereka terhadap pekerjaan dan produtivitas. Mereka telah pula berimigrasi untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Walaupun mungkin belum ada penelitian yang menyeluruh atas mempengaruhi siaran televisi dapat perilaku positif masyarakat (pedesaan) kita namun rasanya dapat kita lihat indikator-indikator ke arah itu. - Sementara itu pengaruh yang negatif juga tidak kalah menariknya untuk disimak. Pada tahun 1975 yang lalu, data statistik di Amerika menyebutkan bahwa setiap tahun terjadi 15.000 pembunuhan, 30.000 perkosaan dan 300.000 korban kekerasan/kebrutalan. Tindak membunuh tersebut dijumpai kebanyakan oleh anak muda, rata-rata usia 20 tahun, sementara korbannya rata-rata di bawah 30 tahun. Tindak pembunuhan tersebut kebanyak-an dengan menggunakan senjata api. Di Amerika orang boleh memiliki senjata api. Sementara itu di Inggris, dengan penduduk 50 juta jiwa hanya dijumpai 150 peristiwa pembunuhan. Di Inggris orang tidak bebas memiliki senjata api. Bagaimana pengaruh TV ? Dr.Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di tahun 60 an dan awal 1970 an telah menelan 20.000 sajian kekerasan di TV saat mereka berusia 19 tahun. - Dr. Robert M. Liebert, menegas-kan setelah meneliti 50 studi tentang perilaku 10.000 anak usia 3 - 19 tahun bahwa : the more violence and aggression a youngster regardless of his age, sex or social background, the more aggressive he is likely to be in his own atitude and behaviors. Selanjutnya dikatakan bahwa It was not a boys home life, not his school performance, not his family background, but the amount of TV violence he viewed at age 9 wich was the single most important determinant of how aggressive he was 10 years latter, at age 19. - Zhao Yuhui, melaporkan bahwa pada tahun 1986 ada seri TV berjudul Garrison’s Gorillas di TV China. Karena tayangan tersebut kemudian banyak bermunculan kelompok-kelom-pok Garrison’s Gorillas di SMP bahkan SD. Mereka melempar batu-batu ke jendela sekolah dan merusak bangku. Banyak guru dan orangtua protes sehingga tayangan di China Central TV tersebut kemudian distop. (Unesco, 1994). Walaupun tidak sejelek itu, kasus serupa sering kita jumpai di suatu daerah di Jawa tengah. Anak-anak tidak mau mengaji apabila sarung dan kopiahnya bukan yang bercap KBH (Ksatria Baja Hitam) - Pada tahun 1994, koran-koran di Singapura melaporkan poling pendapat yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat pada tindak kekerasan. Ditemukan bahwa kebanyakan dari mereka suka menikmati film-film kekerasan di TV, melihat orang-orang dipukul atau dibunuh di layar kaca tersebut (Unesco, 1994) Masih banyak contoh-contoh atau temuan betapa televisi benar-benar merupakan media yang ampuh untuk mempengaruhi perilaku orang. Sebagaimana upaya mengubah perilaku yang lain siaran TV memulainya dengan membuat orang tahu dan sadar akan adanya informasi yang ingin disampaikan. Selanjutnya memberi kesempatan penonton untuk menilai informasi tersebut dan menerima atau menolaknya. Dengan kemasan hiburan, pesan yang disampaikan jauh lebih mudah untuk membuat penonton tahan melihat dan berinteraksi dengan sajian televisi. Mau menonton dan berinteraksi tersebut berarti jendela dunia di keluarga tersebut telah terbuka. Dengan dibukanya jendela tersebut masuklah pesan-pesan dengan segala muatannya. Adalah tugas kita untuk mendayagunakan kemampuan televisi untuk mengubah dan membentuk perilaku penonton seperti yang kita inginkan. Tantangan ini perlu kita jawab dengan sungguh-sungguh. |  05 March 2008, 03:42 AM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | 36 RIBU JANIN DI BUNUH REMAJA DI LUAR NIKAH Jakarta--bkkbn online : 36 ribu janin hasil hubungan gelap di luar nikah dibunuh, demikian hasil penemuan yang diungkapkan Tim Peneliti RSCM dan UI pada seminar sehari, Jum'at (7/9). Meningkatnya kasus aborsi di kalangan remaja itu, kata Fetty Fajriati dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tidak terlepas dari pengaruh tayangan televisi, maraknya peredaran CD dan situs internet pornografi. Di beberapa sinetron remaja, KPI menemukan adanya unsur cerita yang seolah-olah membenarkan seks bebas di kalangan remaja, ungkap Fetty di sela-sela diskusi publik bertema "Tayangan Televisi Antara Komersialisasi dan Degradasi Moral" Pada acara yang diselenggarakan Forum Wartawan Perempuan dan Anak (Fortapena) bekerjasama dengan Kantor Menteri Pemberdayaan Perempuan dan televisi anak Spacetoon itu, Fetty mengakui KPI menerima banyak pengaduan dan keluhan dari masyarakat seputar sinetron yang ditayangkan hampir di semua stasiun televisi ini. Menanggapi maraknya tayangan sinetron tak bermutu seperti sekarang ini, :ktawain: aktor Didi Petet menyatakan keprihatinannya. Namun diakuinya, ia tidak bisa berbuat banyak selain kembali kepada idealismenya sendiri dengan cara menolak bergabung dengan komunitas mereka. Psikolog dari UI (Universitas Indonesia) Sri Fatmawati mengungkapkan, Fakultas Psikologi UI pernah meneliti, lalu menyimpulkan bahwa ibu-ibu rumah tangga yang biasa menonton adegan kekerasan dalam televisi cenderung menerapkannya ke dalam pola pendidikan pada anak-anaknya. "Apa jadinya nanti jika mereka itu meniru-niru kejadian yang tak bermoral yang ditayangkan televisi," tandas Sri Fatmawati. Sumber : BKKBN - Cetak - Berita ************************************ GAGASAN Kebebasan Perilaku Remaja manga apa yg kamu menyesal setelah membelinya? Anak Indonesia Rentan Pengaruh Pornografi Anak Indonesia Rentan Pengaruh Pornografi "Menyeret Pemilik Situs Porno Berdasarkan Perjanjian Kerja" "Menyeret Pemilik Situs Porno Berdasarkan Perjanjian Kerja" Lima Dari 100 Siswa Slta Di Dki Berhubungan Seks Sebelum Menikah Lima Dari 100 Siswa Slta Di Dki Berhubungan Seks Sebelum Menikah Diperlukan Keseriusan Aparat Perangi Pornografi Anak Diperlukan Keseriusan Aparat Perangi Pornografi Anak 36 RIBU JANIN DI BUNUH REMAJA DI LUAR NIKAH. 36 Ribu Janin Di Bunuh Remaja Di Luar Nikah "Cina Kampanye Anti PORNOGRAFI Internet" "Cina Kampanye Anti PORNOGRAFI Internet" China Tutup 44.000 Situs Porno Selama 2007 China Tutup 44.000 Situs Porno Selama 2007 Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Awas !! Bahaya Pornografi Mengancam...!!!! Last edited by sibin; 06 March 2008 at 07:56 PM. |  09 March 2008, 11:13 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | kutipan: Pick N Kick TV Program - Menggugat tanggung jawab sosial LATIVI - tips Quote: Advokasi opini publik sangat penting dilakukan karena kultur masyarakat kita yang tidak mensensor tayangan untuk anak-anak. Kelemahan orang tua mengawasi apa yang ditonton anaknya ditambah dengan tumpangtindingnya peraturan yang mengatur penyiaran adalah celah penting yang nyata-nyata dimanfaatkan oleh stasiun televisi di Indonesia. Maka, kepedulian, dukungan untuk memboikot tayangan yang tidak mendidik (dan bahkan menimbulkan kekerasan) sangat diperlukan untuk memberi pesan kepada stasiun televisi tersebut bahwa mereka tidak memiliki lisensi sosial untuk beroperasi........., Sebuah stasiun televisi yang bertanggung-jawab adalah televisi yang mendengar kekhawatiran publik (yang beralasan). Mereka akan membangun kebijakan internal mengenai apa yang pantas dan tidak pantas ditayangkan. Jika tidak, jangan kita berikan mereka lisensi sosial untuk beroperasi. | |  09 March 2008, 11:13 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | HANYA MASYARAKAT BODOH YANG TONTON SINETRON!!!! JAKARTA - "Hanya Yogya yang punya gudeg dan Padang dengan rendangnya. Dan hanya masyarakat bodoh yang menonton sinetron remaja yang seperti itu" ujar Slamet Raharjo, sutradara yang juga aktor senior Indonesia, saat menyampaikan tanggapannya atas "potret sinetron remaja di Indonesia saat ini" dalam acara seminar "Wajah Buram Sinetron Remaja Indonesia", di Kampus Universitas Paramadina Jakarta. Oleh sebab itu Slamet Raharjo menyambut baik upaya kalangan perguruan tinggi yang peduli terhadap sinetron Indonesia dan film Indonesia pada umumnya lalu melakukan penelitian yang mendalam. Penelitian itu, katanya, menjadi penting dan harus menjadi pegangan untuk melakukan tindak lanjut. "Terlalu banyak catatan yang bernilai negatif terhadap dampak yang diberikan oleh sinetron remaja Indonesia pada saat ini, terlebih pada perkembangan anak-anak dan remaja Indonesia" ujar lelaki kelahiran Serang, Banten, 21 Januari 1949 itu. Slamet menjelaskan, film dan sinetron yang ada sekarang termasuk sinetron remaja merupakan penggambaran atas realitas kehidupan yang disajikan dalam bentuk karya seni akting di dalam pertelevisian. Sinetron remaja yang berkualitas menurutnya adalah sinetron yang mengikuti kaidah-kaidah dan memiliki pijakan azas sinematographi yang jelas, selain estetika yang baik. Tetapi, aktor yang pernah main dalam film "Badai Pasti Berlalu" (2007) film remark judul yang sama produksi 1977 itu melihat begitu banyak produk sinetron atau film remaja yang membodohi masyarakat yang tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Terhadap fenomena itu, katanya, harus ada yang bertanggung jawab, dan pihak yang seharusnya bertanggung jawab ialah Presiden dan kalangan intelektual. Jangan hanya menonton dan membiarkan semuanya seakan tidak pernah terjadi sesuatu yang salah. Ayo bertindak! Jangan berhenti hanya sebatas wacana dan data-data saja" ujar sutradara film "Telegram" (2000) itu. Peraih Pila Citra ini juga menegaskan bahwa selain harus ada yang bertanggung jawab juga harus ada kerjasama antara pihak akademis dan praktisi agar pertelevisian Indonesia dapat menyajikan tontonan yang sehat dan mendidik untuk perkembangan anak-anak dan remaja. | | Banjarmasin Post Online | | - "Hanya Masyarakat Bodoh Tonton Sinetron" |  09 March 2008, 11:15 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Terimakasih REPUBLIKA Hari Ini,Minggu 9 Maret'08 LAPORAN UTAMA : MEDIA TELEVISI & SINETRON - Buruk Rupa SINETRON REMAJA - Banjir Adegan SEKS di LAYAR KACA - yang AMORAL di Ruang TENGAH Keluarga Kita Quote: Kolom: Banjir Adegan SEKS di LAYAR KACA Tema Sinetron REMAJA adalah PERCINTAAN. Tak aneh banyak muncul adegan2 mesum.... Hasil riset 67 peneliti dari 18 Perguruan Tinggi di indonesia menemukan FAKTA ber-JUBELnya adegan2 SEKS dalam TAYANGAN Sinetron REMAJA,..... TELANJANG : 2% Kata CABUL : 10% Ciuman : 18% Pemerkosaan : 12 % Seks Menyimpang : 1% [hr] Kolom: yang AMORAL di Ruang TENGAH Keluarga Kita Sesuai MORAL : 14% TIDAK Sesuai MORAL : 86% Aktor senior Slamet Raharjo : "Saat ini kita tidak dijajah oleh Nuklir, Tetapi oleh MEDIA !!" | |  18 March 2008, 12:41 PM | | Member | | Join Date: February 2006 Posts: 52 Rep Power: 3 | | Bahaya Televisi bagi Saraf Anak Mata bening Rian, 4 bulan, terpaku menatap pesawat televisi di depannya. Seraya tengkurap, tubuhnya tak bergeming. Tak ada rengekan ataupun tangis, tetapi hanya ocehan yang sesekali keluar dari bibir mungil bayi itu. Ia tampak begitu tenang di depan layar kaca. Bukan hanya Rian yang sengaja diletakkan oleh orang tua, babysitter, atau pembantunya di depan televisi. Namun, masih banyak anak-anak atau bayi lain yang dibiarkan menikmati tayangan televisi. Bahkan, bila dihitung, bisa berjam-jam lamanya setiap hari, mereka dibiarkan mematung di depan pesawat televisi. Alasannya sederhana saja, bayi dan anak-anak itu tidak merengek. Dengan begitu, orang tua, babysitter, atau pembantu bisa melakukan aktivitas lain atau sekadar beristirahat guna melepas lelah. Namun, tanpa disadari, langkah tersebut ternyata bisa mempengaruhi perkembangan sel-sel saraf dalam otaknya. "Kebanyakan kita masih menganggap televisi sebagai babysitter," ujar Boby Guntarto, Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Menurut Boby, banyak di antara para orang tua yang membiarkan anaknya berlama-lama menonton televisi. "Orang tua menaruh anaknya di depan TV selama mereka tenang," katanya. Penelitian yang dilakukan YKAI menyebutkan bahwa seorang anak bisa menghabiskan waktunya empat sampai lima jam dalam sehari menonton televisi. "Ini tinggi sekali," katanya. Belum lagi, hanya 15 persen orang tua yang mendampingi anaknya menonton. Boby lalu mengutip peringatan dari akademi dokter anak Amerika. Anak berusia di bawah dua tahun yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi akan menerima pengaruh merugikan. Terutama pada perkembangan otak, sosial, emosi, dan kemampuan kognitif si anak. Memang dampak yang ditimbulkan itu tidak seketika terjadi , tetapi beberapa tahun kemudian. Psikolog anak, Rahmitha P. Soendjojo, mengemukakan, pasien yang datang kepadanya banyak yang mengeluhkan anak mereka sulit bicara, tidak bisa duduk diam, serta kesulitan berkonsentrasi ketika belajar. "Dari tujuh pasien yang datang, dua sampai tiga orang mengeluhkan hal itu," ujarnya. Setelah dirunut ke belakang, tenyata anak-anak yang mengalami masalah seperti itu memiliki pengalaman menonton televisi sejak masih kecil. Padahal, membiarkan anak terlalu dini menonton televisi bisa mengakibatkan proses wiring, proses penyambungan antara sel-sel syaraf dalam otak, menjadi tidak sempurna. Ketika lahir, kata Rahmitha, bayi memiliki 10 miliar sel-sel dalam otaknya. Namun, sel-sel itu belum bersambung dan masih berdiri sendiri-sendiri. Agar sel-sel itu berfungsi, sel-sel tersebut harus saling terkait (wiring). Maksimalisasi proses tersebut sangat dipengaruhi oleh pengalaman simulasi seperti gerakan, nyanyian, obrolan, serta gizi yang baik. "Kalau pengalaman itu tidak ada, prosesnya jadi tidak maksimal," katanya. Simulasi tersebut dilakukan secara perlahan dan bertahap, tidak sekaligus, meski otak memang bekerja untuk melihat, meraba, bergerak, dan lainnya secara simultan. Kendati begitu, tetap butuh simulasi yang tidak datang secara bersamaan. Nah, televisi justru memberi simulasi yang bersamaan dan cepat. Ini terjadi karena potongan gambar yang datang dan pergi begitu cepat, zoom in (pembesaran gambar) dan zoom out (pengecilan) yang intensif, dan kilas lampu yang sangat cepat di televisi. Selain itu, sistem pemunculan gambar di televisi tidak kontinu dan prosesnya berjalan dengan cepat. Misalnya saja, sebuah tayangan menceritakan seseorang yang hendak makan. Proses mengambil nasi hingga selesai makan, hanya terjadi dalam waktu beberapa detik saja. Kenyataan inilah yang sangat tidak membantu proses wiring pada anak usia nol sampai dua tahun. "Exposure televisi yang terlalu dini bisa mengganggu kemampuan konsentrasi anak," katanya. Selain kesulitan konsentrasi, secara tak langsung, anak yang terlalu banyak menonton televisi cenderung sedikit lambat bicara. Ini terjadi karena aktivitas menonton televisi tidak menggugah anak untuk berpikir. Apa yang disajikan televisi sudah lengkap, baik gambar maupun suaranya. Hal tersebut berbeda dengan mendengarkan radio. Seorang anak yang mendengarkan suara kambing mengembik di sebuah radio, misalnya, akan berpikir seperti apa bentuk kambing itu. Sedangkan di televisi, dia tidak perlu berpikir lagi karena telah disodorkan gambar dan suaranya. Sebaiknya, kata Rahmitha, aktivitas menonton televisi bagi anak usia nol sampai dua tahun harus dibatasi atau dihilangkan sama sekali. "Televisi jangan dijadikan alat hiburan buat dia (anak-anak). Terlalu sering menonton televisi terjadi karena orang dewasa tidak memberi kegiatan yang menarik untuk mereka," katanya. Bahkan, kata Bobby, "Hindari televisi sama sekali, itu yang paling bagus." Menonton televisi, kata dia, merupakan aktivitas pasif yang hanya merugikan proses penyambungan sel-sel saraf. Seharusnya, anak-anak justru diberikan program yang pergerakan gambarnya lambat. Program acara untuk anak usia dua sampai lima tahun, kata dia, berbeda dengan anak usia di atas lima tahun. "Di televisi kita, program untuk anak usia tersebut (2-5 tahun) belum ada," ujar Boby. Oleh karena itu, kata dia, lebih baik jika anak mendengarkan radio. Soalnya, tidak semua konsentrasi diarahkan ke materi siaran radio. Sehingga dia masih bisa melakukan kegiatannya sambil mendengarkan radio. Kalaupun anak mau menonton, kata Bobby, masih lebih baik kalau anak-anak diberi tontonan musik di video compact disc (VCD). Ini karena program yang ditayangkan tersebut bisa dikontrol oleh orang tua. Anak yang menonton televisi, kata Bobby, bisa menyaksikan program apa saja yang muncul di televisi. Orang tua di rumah tidak punya kuasa apa-apa untuk mengganti muatan tayangan tersebut. Jadi, waspadalah!!!, lis yuliawati Bahaya Televisi bagi Saraf Anak ********************************************** 1. Dampak Isi Pesan Media Massa TAMPILKAN ARTIKEL 3. Pengaruh Televisi pada Perubahan Perilaku TAMPILKAN ARTIKEL 5. Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis) TAMPILKAN ARTIKEL 6. Jangan Jadikan sebagai Kekuatan Dahsyat yang Tak Bernurani TAMPILKAN ARTIKEL 10. Peran Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan TAMPILKAN ARTIKEL KLIPING BERITA BAHAYA TELEVISI ^,^ TAMPILKAN ARTIKEL | |