Menggugat Sinetron Berlatar Sekolah
Oleh: Rochmat Santoso
"Sosok guru dalam sinetron selalu digambarkan sebagai tokoh yang serba kekurangan secara total. Kekurangan lahir batin! Penampilan yang culun dan naif."
Entah pikiran apa yang ada di benak penulis skenario sinetron tentang pendidikan ketika dia sedang menulis. Yang pasti, hasil khayalannya dalam sinetron yang kita lihat selalu mewujudkan dunia pendidikan dalam gambaran yang suram, naif, memelas, bahkan cenderung memalukan. Terutama wujud sosok guru alias pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa sadar penulis sinetron mengolok-olok bahkan melecehkan keberadaan sang guru.
Sosok guru dalam sinetron selalu digambarkan sebagai tokoh yang serba kekurangan secara total. Kekurangan lahir batin! Penampilan yang culun dan naif. Sikap yang mengundang tawa dan memelas tampaknya belum memuaskan penulis sinetron sehingga dia perlu melengkapinya dengan menyerahkan pemeran guru kepada seorang badut! Bayangkan, seorang tokoh yang mestinya dihormati dan diteladani diperankan oleh seorang badut yang sepanjang durasi tayangan diharapkan mampu mengocok perut pemirsa.
Yang pasti, tokoh sang guru teraniaya dalam sinetron! Tidak ada lagi penghormatan kepadanya, bahkan tokoh guru dijadikan eksplorasi cemoohan dan ini seolah sudah menjadi salah satu kiat penulis sinetron, mungkin sutradara, bahkan si produser, untuk lebih mengangkat nilai jual sinetron tersebut.
Tayangan adegan suasana pelajaran pun terasa kontras sekali dengan kenyataan sebenarnya. Dalam adegan-adegan tersebut, sang guru selalu berada dalam keadaan kalah dan salah. Ujung-ujungnya, sang guru pun menjadi bahan ledekan. Tak ada lagi siswa yang segan, apalagi menghargai sang guru. Sikap para siswa pun tampak berlebihan dan sama sekali tidak menampakkan mereka membutuhkan guru atau sekolah.
Penampilan sosok para siswa dalam sinetron pun sangat berlebihan. Tidak lagi sesuai dengan norma-norma pendidikan. Siswa putra biasanya digambarkan dengan rambut yang panjang (sekalipun untuk siswa SMP), gelang, dan kalung rantai. Siswa putri juga tampak tidak mencerminkan seorang siswa sekolah.
Atribut kewanitaannya lebih mengarah kepada suasana pesta. Bahkan, pernah ada pada suatu sinetron yang tokoh wanitanya (seorang siswi) memakai atribut yang sangat tidak mungkin diizinkan untuk dipakai di sekolah sekalipun oleh sekolah di Jakarta.
Ada suatu ingatan yang masih mengganggu dalam ingatan penulis, yaitu ketika menyaksikan klip video lagu anak-anak. Dalam lagu yang bersyair tentang perjumpaan guru dengan siswa di sekolah, ada hal yang terasa janggal.
Yaitu tokoh guru dalam klip video tersebut diperankan seorang yang (maaf) cebol! Sang guru cebol itu memeragakan akting yang berlebihan.
Syukurlah, lagu itu mungkin tidak bermutu sehingga hanya beberapa kali muncul di layar televisi. Allhamdulillah!
Gambaran ekonomi pun tertampilkan dengan hal yang sangat tidak sesuai (kontradiksi). Begitu berlebihannya si penulis sinetron dalam mengumbar kemewahan yang dipunyai oleh para siswa yang nota bene masih sangat anak-anak.
Hampir tidak ada tokoh siswa yang memakai sepeda pancal ketika datang ke sekolah. Kebanyakan para siswa itu memakai sepeda motor.
Bahkan, ada yang sangat kelewatan, yakni adanya siswa SMP yang memakai mobil! Sungguh manakjubkan anak SMP di Indonesia!
Bukankah rata-rata anak SMP usianya belum memenuhi syarat untuk mempunyai SIM?
Lalu, alasan apa yang dipakai oleh si penulis sinetron dan sutradara dengan menampilkan adegan itu?
Bukankah ini membawa dampak yang tidak baik bagi siswa yang tidak berada dalam sinetron alias dalam kehidupan nyata?
Dalam kasus ini, tampaknya, penulis sinetron ataupun sutradara melupakan satu hal, yaitu telah berubahnya pola pikir masyarakat di mana tontonan telah menjadi tuntunan? (mudah-mudahan penulis salah).
Ada satu hal mendasar yang menyebabkan begitu sinisnya dunia persinetronan terhadap dunia persekolahan:
observasi.
Kurangnya atau lebih tepatnya tidak adanya observasi dari penulis sinetron terhadap situasi persekolaham membuat tayangan sinetron begitu berlepotan. Perkembangan dunia persekolahan yang telah berubah dengan sangat pesat tidak diketahui atau terekam oleh penulis sinetron.
Sebenarnya, sebagai suatu komunitas, ada beberapa warna sosial di sekolah. Ada warna kepatuhan siswa terhadap guru, ketaatan dan kedisiplinan terhadap aturan, dan semaraknya mode terkini. Juga ada kesetiakawanan dan persahabatan di kalangan siswa. Dan yang paling menonjol adalah kepatuhan atau sikap hormat siswa kepada guru dan ketaatan siswa terhadap tata tertib sekolah. Memang sih tidak semua sekolah, tapi yang sebenarnya adalah, hal-hal yang baik-baik masih menjadi urat nadi hidup dan kehidupan sekolah-sekolah di Indonesia!
Dalam warna kepatuhan yang mendalam itulah sosok guru berada. Ia pun menjadi tokoh sentral yang karismatik dan diteladani secara sadar oleh siswa-siswanya. Maka sang guru pun harus bisa tampil sesempurna mungkin baik dalam keberadaannya di dalam maupun di luar kelas.
Yang pasti, potret sosok sang guru dalam kehidupan nyata berbeda terbalik dengan sosok guru dalam sinetron yang ber-setting sekolah. Para penulis sinetron harus tahu itu!
Banyak rambu yang mesti diperhatikan oleh kalangan penulis sinetron dalam berkarya ketika menggunakan sekolah sebagai setting atau latar dalam karyanya. Pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sekolah plus penghuninya harus betul-betul dikuasainya. Sebab, bagaimanapun, lingkungan sekolah adalah lingkungan yang bermartabat tinggi dan itu telah dirasakan dan diakui oleh masyarakat kita, lebih-lebih kalangan menengah ke bawah.
Ada beberapa karakter yang tidak boleh dibuat main-main dalam lingkungan pendidikan. Karakter itu harus diperlakukan dengan semestinya, apa adanya. Sangat ditabukan bila berlebih-lebihan-ini yang biasanya tampak dalam sinetron kita. Karakter-karakter itu adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa alias sang guru dengan segala problematiknya, silaturahmi siswa dengan guru, dan ketaatan siswa kepada sekolah. Ringkasnya adalah segala gerak gerik penghuni sekolah secara keseluruhan. (*)
Rochmat Santoso
Guru SMP Negeri I Dagangan, Madiun
|| Jawa Pos Online || Baca Lagi:
^.^ Menggugat Tanggung Jawab TV ^.^ Menggugat Tanggung Jawab TV